Elearning Snemba

E-Learning SMPN 4 Batu

Zaman Hindu Buddha

ZAMAN HINDU-BUDHA

Selayang Pandang Agama Hindu

            Agama Hindu berakar dari kehidupan bangsa Aria yang memasuki India  ± tahun 2000-1000 SM dan kemudian menyebut diri mereka sebagai bangsa Hindu. Bangsa Hindu menulis kitab suci Weda yang terdiri dari:

  • Rgweda, berisi syair-syair pujian terhadap dewa-dewa.
  • Samaweda, berisi syair-syair Regweda yang diberi simbol-simbol nada sehingga dapat dinyanyikan.
  • Yajurweda, berisi doa-doa untuk pengantar sesaji yang disampaikan kepada dewa diiringi pembacaan Regweda dan nyanyian Samaweda.
  • Atharwaweda, berisi mantra-mantra dan jampi-jampi untuk sihir dan ilmu gaib (mengusir penyakit, menghancurkan musuh, mengikat cinta dan memperoleh kekuasaan).

Beberapa kitab agama Hindu selain Weda antara lain adalah:

  • Brahmana, berisi penjelasan Weda
  • Upanishad, berisi petunjuk tentang kenyataan hidup agar lepas dari samsara/hakekat kehidupan (lahir-hidup-mati)
  • Kalpasutra, berisi tatacara penyelenggaraan upacara dan sesaji

            Agama Hindu bersifat politeisme. Dewa-dewi agama Hindu antara lain adalah Agni, Wayu, Surya, Indra, Candra, Soma, Waruna dan Saraswati. Dalam perkembangannya kemudian muncul Trimurti yang terdiri dari Brahma, Wisnu dan Siwa. Masyarakat Hindu dibagi dalam 4 golongan masyarakat yang disebut caturwarna, yaitu:

  • Brahmana, terdiri dari para pendeta dan pemuka agama
  • Ksatria, terdiri dari raja dan bangsawan
  • Waisya, yaitu para pedagang
  • Sudra, terdiri dari petani, buruh kecil dan budak.

Di luar kelompok tersebut terdapat kelompok paria yang terdiri dari orang-orang yang dikeluarkan dari kelompoknya.

            Salah satu tempat suci agama Hindu adalah Benares yang diyakini sebagai tempat persemayaman para dewa dan Sungai Gangga. Air sungai ini diyakini dapat menghapus semua dosa manusia berapapun besarnya.

Selayang Pandang Agama Budha

            Agama Budha didirikan Sidharta Gautama, pangeran dari Kapilawastu di lereng Gunung Himalaya. Beberapa tempat suci agama Budha adalah:

  • Kapilawastu, tempat kelahiran Sidharta Gautama
  • Bodh Gaya, tempat Sidharta bertapa dan menjadi Budha Gautama (531)
  • Sarnath/Benares, tempat Budha Gautama pertama kali menyampaikan ajarannya
  • Kusinagara, tempat Budha Gautama wafat, masuk nirwana selama-lamanya.

            Kitab suci agama Budha dikenal dengan nama Tripitaka (=tiga keranjang), terdiri dari:

  • Winayapitaka, berisi segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup
  • Sutrantapitaka, berisi nasihat-nasihat Budha
  • Abhidarmapitaka, berisi penjelasan-penjelasan dan pendalaman-pendalaman tentang keagamaan.

            Pada abad XI agama Budha mengalami perpecahan menjadi dua aliran besar, yaitu aliran Sthawirawada (Hinayana) dan Mahasanghika (Mahayana). Beberapa perbedaan aliran Hinayana dengan aliran Mahayana dapat dibandingkan sebagai berikut.

Mahayana Hinayana
· Nirwana hanya dapat dicapai dengan bantuan orang suci (Arhat) yang telah meninggal.

·  Bercita-cita mengajak orang lain mencapai nirwana sebagai Budha.

· Mengenal reinkarnasi.

·  Budha dipuja sebagai dewa.

· Nirwana dapat dicapai dengan usaha sendiri tanpa bantuan orang lain.

· Bercita-cita masuk nirwana sebagai Arhat.

· Tidak mengenal reinkarnasi.

· Budha dipuja sebagai guru.

Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Hindu-Budha di Indonesia

            Dalam mempelajari proses masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia terdapat tiga pendapat atau hipotesa yang masing-masing memiliki kelemahan.

  1. Hipotesa Ksatria

Hipotesa ini diajukan oleh FDK Bosch. Menurut Bosch, orang-orang India mengadakan kolonisasi di Nusantara yang mungkin disertai penaklukan. Koloni-koloni orang India ini menjadi pusat penyebaran budaya Hindu-Budha. Hipotesa ksatria mendapat banyak sanggahan atau keberatan. Beberapa keberatan tersebut adalah:

  • Orang-orang India yang datang di Nusantara sebagian besar adalah pedagang, bukan golongan prajurit (NJ Krom).
  • Tidak ada catatan tentang penaklukan orang-orang India terhadap Nusantara (van Leur).
  1. Hipotesa Waisya

            Hipotesa ini diajukan NJ Krom. Menurut Krom, budaya Hindu-Budha disebarkan oleh golongan pedagang. Para pedagang India tinggal selama ± 6 bulan untuk melakukan kegiatan perdagangan sambil menunggu arah angin yang mengantar mereka kembali ke India. Selama menetap, mereka menikah dengan wanita-wanita Nusantara dan memperkenalkan budaya Hindu-Budha kepada istri-istri mereka. Para pedagang ini menetap dalam perkampungan-perkampungan orang India di Nusantara yang kemudian dikenal dengan nama kampung Keling.

Beberapa keberatan terhadap hipotesa waisya ini adalah:

  • Hubungan para pedagang India dengan masyarakat Nusantara terbatas pada hubungan ekonomi saja.
  • Sebagian besar pedagang yang datang adalah pedagang keliling. Mereka tidak mungkin dapat mengadakan perubahan-perubahan religi dan ketatanegaraan.
  1. Hipotesa Brahmana

            Hipotesa ini diajukan van Leur dan mendapat dukungan luas di kalangan sejarawan. Menurut van Leur, budaya Hindu-Budha disebarkan oleh para brahmana India yang datang atas undangan para penguasa lokal.

            Antara India dengan Nusantara telah terjalin hubungan perdagangan sejak awal Masehi, sezaman dengan pesatnya perkembangan budaya Hindu-Budha di India. Para pedagang Nusantara berlayar ke India dan mengadakan hubungan ekonomi di sana. Mereka kemudian menceritakan keadaan India kepada orang-orang Nusantara, termasuk para penguasa lokal. Terdorong untuk dapat berhubungan dengan orang-orang India dalam taraf yang sama dan terdorong untuk meningkatkan keadaan dalam negeri, para penguasa ini kemudian mengundang para brahmana dan biksu.

            Para brahmana pertama kali berhubungan dengan kalangan istana. Mereka datang untuk mengadakan upacara vratyastoma, yaitu ritual untuk menghindukan seseorang. Penguasaan secara mendalam terhadap kitab suci menempatkan para brahmana sebagai penasehat raja dalam berbagai bidang kehidupan. Para biksu yang datang bersama para pedagang mengajarkan agama Budha di kalangan istana dan membentuk masyarakat Budha serta mendidik warga setempat untuk menjadi biksu. Biksu-biksu lokal ini kemudian berkunjung ke India untuk meningkatkan ilmu agama dan kembali dengan membawa benda-benda suci. Dengan demikian hubungan religi antara Nusantara dengan India dapat terus berlangsung. Proses awal hubungan budaya Nusantara-India ini kemudian dikenal sebagai proses penyuburan. Dari istana, budaya Hindu-Budha kemudian meluas di kalangan rakyat jelata.

Perwujudan Akulturasi Budaya Hindu-Budha dengan Budaya Nusantara

            Akulturasi adalah percampuran budaya setempat dengan budaya pendatang tanpa menghilangkan unsur budaya setempat. Akulturasi muncul karena adanya local genius (kecakapan lokal), yaitu kemampuan pemangku budaya setempat untuk menyaring dan menyesuaikan semua budaya pendatang dengan akar budaya mereka sendiri. Dengan local genius, kepribadian suatu bangsa akan selalu tetap terjaga. Beberapa wujud akulturasi budaya Hindu-Budha di Nusantara adalah sebagai berikut.

Bidang Kehidupan Nusantara Hindu-Budha Akulturasi
1.    Kesenian ·  Punden berundak

·  Keadaan alam

·  Kuil pemujaan

·  Karya sastra

· Candi

· Karya sastra Hindu-Budha dengan setting Jawa

2.    Sistem Religi · Pemujaan roh nenek moyang ·  Patung dewa ·  Patung perwujudan
3.    Kehidupan Sosial · Penghormatan pada wanita

·  Toleransi

·  Drupadi bersuami Pandawa Lima

·  Masyarakat terdiri dari 5 warna (Brahmana-Paria)

· Drupadi bersuami Yudhistira saja

· Masyarakat terdiri dari 4 warna (Brahmana-Sudra)

4.    Pemerintahan · Demokrasi · Raja, berkuasa mutlak · Daerah-daerah vazal yang mempunyai otonomi luas

 

 Beberapa karya sastra yang terpengaruh budaya Hindu-Budha adalah sebagai berikut.

Karya Seni Penggubah Isi Pokok
1.    Bharatayudha, digubah dari Mahabharata Empu Sedah, Empu Panuluh Peperangan antara Pandawa dengan Kurawa
2.    Arjunawiwaha Empu Kanwa Arjuna bertapa di Indrakila untuk mendapat senjata melawan Kurawa
3.    Smaradahana  

Empu Dharmaja

Kisah cinta Dewa Kama dengan Dewi Ratih
4.    Sumanasantaka  

Empu Managuna

Harini dikutuk menikah dengan raja dan melahirkan Dasaratha
5.    Gatutkacasraya  

Empu Panuluh

Perkawinan Abhimanyu dengan Sundari atas bantuan Gatutkaca
 

6.    Kresnayana

 

Empu Triguna

Perkawinan Kresna dengan Rukmini
 

7.    Arjunawijaya

Empu Tantular Peperangan raja Arjuna Sahasasrabahu dengan Rahwana
8.    Sang Hyang Kamahayanikan Gajahmada Peraturan-peraturan dalam agama Budha Mahayana

  

 Daftar Sumber

Poesponegoro, MD, dkk. 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Depdikbud.

Soekmono, R. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta:    Kanisius.

Sukardi, J. 2001. Sejarah Nasional dan Umum 1. Jakarta: Bumi Aksara.

Zoetmulder, PJ. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Terjemahan oleh     Dick Hartoko. 1985. —: Djambatan.

 

Oleh: Mohammad Taufi Al Fadjar, S.Pd., M.Pd. (Guru IPS SMPN 4 Batu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elearning Snemba © 2018