Elearning Snemba

E-Learning SMPN 4 Batu

Proses Masuknya Islam di Indonesia

Proses Masuknya Islam dan Perkembangan Budaya Islam di Nusantara

Sumber-Sumber

    Sumber artefak, berupa:

    Batu nisan makam Islam di pantai timur Sumatra Utara yang telah ada sejak abad VII

    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) berangka tahun 1082

    Makam Malik Al Saleh (1297), raja pertama Samudra Pasai.

    Makam Putri Campa (1370) di Tralaya. Putri ini diduga kuat adalah permaisuri Brawijaya.

    Sumber bangunan, berupa:

    Masjid Agung Cirebon (awal abad XVI)

    Masjid Agung Demak (awal abad XVI)

    Masjid Agung Banten (abad XVII)

    Masjid Katangka, Sulawesi Selatan (abad XVII)

    Masjid Angke, Tambora dan Maruda (abad XVII).

    Sumber tertulis, berupa:

    Berita Cina (650) tentang Kerajaan Ta Shi di Sumatra.

    Berita Cina (758) tentang keberadaan orang-orang Arab di Kanton.

    Berita Arab (abad VII). Para pedagang Arab telah mengunjungi Sriwijaya dan menunjuk tempat tersebut dengan sebutan Zabag/zabay.

    Laporan ekspedisi Persia pimpinan Zahid ke Cina yang disertai para mubaligh. Ekspedisi ini antara lain singgah di Sumatra Utara, Sriwijaya dan Medan.

    Ekspedisi pedagang dan mubaligh ke Kanton dan singgah di Lamuri (Aceh).

    Catatan Marcopolo (1292). Ia singgah di kerajaan Islam Samudra Pasai.

    Catatan Ibnu Batutah (1345) tentang Kerajaan Samudra Pasai.

    Catatan Ma Huan (1496) tentang keberadaan muslim Gresik.

Islam pertama kali memperoleh pijakan yang kuat di Aceh Utara menjelang akhir abad XII dengan jalan damai. Pembawa agama Islam adalah para pedagang dari Gujarat, India Barat. Bukti tentang negeri asal pembawa Islam tampak pada persamaan ragam hias dan bentuk jirat Nusantara dengan Gujarat pada awal masuknya Islam.

Saluran-saluran Islamisasi di Nusantara

    Perdagangan

Sejak abad VIII, muslim Arab, Persia dan Gujarat telah mengadakan hubungan perdagangan internasional hingga ke Cina. Selain berdagang, mereka menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Melalui perdagangan, islamisasi dapat menjangkau hampir semua lapisan masyarakat, termasuk bangsawan dan raja terutama yang tinggal di pesisir. Beberapa bandar yang menjadi pusat islamisasi antara lain adalah bandar di perairan Selat Malaka, Samudera, Peureula (Perlak), Palembang, Cirebon, Tuban, Gresik, Makasar dan Maluku.

    Perkawinan

Para pedagang muslim yang menetap di kota-kota pelabuhan membentuk perkampungan yang kemudian dikenal sebagai Kampung Koja atau Pekojan. Kekuatan ekonomi mereka membuat penduduk pribumi tertarik untuk mengambil mereka sebagai anggota keluarga dengan cara perkawinan. Perkawinan dilakukan secara Islam, sehingga penduduk pribumi kemudian memeluk agama Islam. Beberapa contoh islamisasi melalui saluran ini adalah perkawinan Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Putri Kawunganten dan Brawijaya dengan putri dari Campa (Aceh) yang menurunkan Raden Patah.

    Pendidikan

Beberapa orang ulama datang bersama para pedagang muslim. Mereka mendirikan tempat pendidikan agama Islam (pesantren). Para santri datang dari berbagai lapisan sosial dan berbagai daerah. Setelah merasa cukup, mereka pulang dan mendirikan pesantren di daerah mereka masing-masing. Dari pesantren, muncul dai-dai yang menyebarluaskan agama Islam. Islamisasi melalui pendidikan ini antara lain dilakukan oleh Wali Songo di Jawa.

    Tasawuf

Dengan tasawuf, agama Islam disebarluaskan sesuai alam pikiran penduduk setempat sehingga mudah dipahami dan diterima. Tokoh-tokoh tasawuf antara lain adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin As Sumatrani, Nuruddin Ar Raniri dari zaman Kesultanan Aceh serta Sunan Bonang di Jawa.

    Kesenian

Sebagian pendakwah menggunakan seni budaya yang digemari masyarakat. Sunan Kalijaga memunculkan senjata bernama Jamus Kalimasada sebagai senjata Puntadewa dalam kisah Mahabaratayuda. Sunan Ampel menciptakan tembang Ilir-ilir berisi ajakan untuk beramal saleh sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan sesudah mati. Dalam seni sastra, syair-syair tasawuf diterjemahkan ke dalam bahasa setempat untuk menarik minat penduduk setempat membaca ajaran-ajaran Islam.

    Politik

Pengaruh politik seorang penguasa dapat berfungsi sebagai saluran islamisasi. Jika raja memeluk agama Islam, maka rakyatnya akan ikut masuk Islam. Berdasarkan amar ma’ruf nahi munkar dan kepentingan politik lain, kerajaan Islam memerangi kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam kemudian menarik penduduk kerajaan non Islam untuk masuk Islam. Khusus untuk saluran ini hanya terjadi di Jawa dan Sumatra.

            Islam yang dibawa pedagang-pedagang asing kemudian dikembangkan dan disebarluskan para ulama atau mubaligh setempat. Di luar Jawa, tokoh-tokoh penyebar Islam antara lain adalah Dato ri Bandang dan Dato Sulaiman (Gowa, Sulawesi Selatan) serta Tuan Tunggang (Kutai). Di Jawa, Islam disebarluaskan ulama-ulama seperti Sunan Tembayat (Klaten), Sunan Lawu, Syeh Bentong dan Sunan Sendang. Selain tokoh-tokoh tersebut, terdapat kelompok Wali Songo sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Mereka adalah:

    Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), putra Sunan Ampel yang tinggal di Tuban.

    Sunan Drajat (Syarifuddin), putra Sunan Ampel yang tinggal di Sedayu.

    Sunan Kalijaga (Sahid), putra tumenggung Majapahit yang tinggal di Kadilangu, Demak, atas perintah Sultan Trenggana. Ia adalah menantu Sunan Gunung Jati.

    Sunan Giri, putra Maulana Iskak dengan putri Blambangan. Ia tinggal di Giri, Gresik.

    Sunan Gunung Jati (Fatahillah, Faletehan, Syarif Hidayatullah), putra Syarif Abdullah dengan Rara Satang/Syarifah Modarin, putri Prabu Siliwangi. Ia berasal dari Pasai, kemudian menetap di Cirebon dan dimakamkan di Gunung Jati. Ia berhasil menaklukkan Cirebon dan Banten sekaligus menjadi penguasa di sana.

    Sunan Ampel, kemenakan permaisuri Kertawijaya. Ia tinggal di Ampel Denta, Surabaya.

    Sunan Malik Ibrahim (Maulana Maghribi), berasal dari Persia dan tinggal di Gresik.

    Sunan Kudus (Jafar Sidik), putra Sunan Ngudug, panglima balatentara para wali yang menyerang Majapahit tahun 1478.

Akulturasi Budaya Nusantara dengan Budaya Islam

Unsur Budaya    Budaya Praislam               Budaya Islam      Akulturasi

Arsitektur            ·  Bentuk atap tumpang bertingkat

  • Candi
  • Masjid

  • Menara untuk adzan
  • Masjid dengan atap bertingkat 3 atau 5 (Masjid Agung Cirebon)

  • Menara berbentuk seperti candi (Masjid Kudus)

Tataruang            · Ruang pendopo

  • Parit keliling candi

  • Meninggikan tempat suci
  • Masjid

  • Masjid

  • Masjid
  • Ruang masjid berbentuk pendopo (Masjid Demak, Masjid Agung Yogya dan Solo)

  • Masjid dengan parit keliling (Masjid Agung Banten)

  • Meninggikan lantai masjid

Seni rupa             · Lukisan-lukisan mahluk hidup   · Larangan melukis mahluk hidup              · Stilirisasi

Seni musik           · Gamelan            · Maulid Rasulullah SAW                · Upacara Sekaten dan Grebeg Mulud di Yogya, upacara Grebeg Mulud di Solo

Kesusasteraan Zaman Islam

            Kesusasteraan Islam Nusantara terutama sekali berkembang di Jawa sebagai kelanjutan dari kesusasteraan zaman sebelumnya dan di daerah Selat Malaka. Karya sastra Islam tertulis dalam berbagai jenis, antara lain yaitu hikayat, babad, suluk dan primbon.

Hikayat

            Hikayat adalah cerita atau dongeng berisi keajaiban dan peristiwa yang tidak masuk akal. Meskipun demikian, beberapa hikayat berawal dari tokoh sejarah atau peristiwa yang benar-benar terjadi.

            Beberapa contoh hikayat adalah:

    Hikayat si Miskin atau Hikayat Marakarma. Isi: kisah Pangeran Marakarma dari Kerajaan Puspa Sari membunuh raksasa pemakan manusia kemudian menikahi Putri Cahaya Khairani dari Kerajaan Mercu Indra dan menjadi Sultan Mercu Indra.

    Hikayat Jauhar Manikam. Isi: kisah Jauhar Manikam , putri Sultan Harun Al Rasyid, suami raja Damsyik menjadi korban fitnah di Persia dan Damsyik. Ia melarikan diri sampai ke negeri Rum dan diangkat sebagai raja bergelar Syah Johan. Pada akhir cerita, semua rahasia fitnahan terbongkar dan Jauhar Manikam kembali ke Damsyik.

    Hikayat Hang Tuah, laksamana Malaka yang menjadi contoh teladan. Ia telah menjadi pahlawan pada masa Gajah Mada (1350), runtuhnya Malaka (1511) dan jatuhnya Malaka ke tangan Belanda (1641). Hang Tuah menghilang secara gaib, namun masih sering menampakkan diri kepada keturunannya.

Babad

            Babad adalah karya sastra yang menceritakan sejarah. Beberapa contoh babad antara lain yaitu:

    Hikayat Raja-raja Pasai, meriwayatkan Kerajaan Pasai sejak didirikan Malik al Saleh hingga ditaklukkan Gajah Mada.

    Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), menceritakan Kerajaan Malaka sejak didirikan sampai jatuhnya ke tangan Portugis, termasuk adat istiadat, keadaan negara dan rakyat.

    Babad Giyanti, karangan Yasadipura. Isi: meriwayatkan pecahnya Kerajaan Mataram menjadi Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegaran.

Suluk

            Suluk adalah kitab-kitab yang membahas ilmu tasawuf dan bersifat pantheistis (manusia bersatu dengan Tuhan). Kitab-kitab suluk merupakan hasil kesusasteraan tertua dari zaman Islam. Beberapa contohnya adalah:

    Suluk Sukarsa, kisah tentang Ki Sukarsa yang mencari ilmu sejati untuk mendapat kesempurnaan.

    Suluk Wujil, berisi nasehat-nasehat Sunan Bonang kepada Wujil, orang kerdil bekas abdi raja Majapahit.

    Syair Perahu, karya Hamzah Fansuri. Manusia diibaratkan sebagai perahu yang mengarungi dzat Tuhan dengan menghadapi berbagai bahaya yang hanya dapat diatasi dengan tauhid dan ma’rifat.

Primbon

            Primbon adalah kitab berisi ramalan-ramalan, penentuan hari baik serta pemberian makna kepada suatu kejadian.

Daftar Sumber

Badrika, IW. 1994. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU Kelas 1.

            Jakarta: Erlangga.

http://www.pesantren.net.html

http://www.pikiran-rakyat.com/prcetak/112001/06/0803.htm

http://www.ummah.net/islam/nusantara/sejarah.html

Qomaruddin, SW. 1995. Sejarah 1 untuk Kelas 1 SMU. Jakarta: Yudhistira.

Soekidi, dkk. 1994. Sejarah 1 untuk SMU Kelas 1. Surakarta: Pabelan.

Soekmono, R. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Jakarta: Kanisius.

de Graaf, HJ dkk. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV.

 

Oleh: Muhamad Taufik Al Fadjar, S.Pd., M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elearning Snemba © 2018