Elearning Snemba

E-Learning SMPN 4 Batu

Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Kesultanan Samudra Pasai

Aspek Politik

Samudra Pasai dibangun di muara Sungai Peusangan, pesisir timur Aceh oleh Laksamana Nazimuddin al Kamil dari Mesir yang saat itu dikuasai dinasti Fatimiyah (penganut aliran syiah). Tahun 1128 ia mendapat tugas merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat dan mendirikan kesultanan di Sumatra dalam rangka menguasai rempah-rempah. Ketika dinasti Fatimah dikalahkan dinasti Mamaluk (penganut sunni), dinasti Mamaluk mengutus Syeh Ismail untuk merebut Samudra Pasai. Bersama Marah Silu, keturunan Marah Gajah, Syeh Ismail merebut Samudra Pasai.

Marah Silu menjadi raja pertama Samudra Pasai dengan gelar Sultan Malik al Saleh (1285-1307). Ia memperkuat kedudukan Samudra Pasai dengan menikahi putri-putri kerajaan sepanjang pantai timur Aceh dan putri raja Perlak di Semenanjung Malaka. Berdasarkan mata uang emas yang ditemukan, sultan-sultan yang berkuasa setelah Malik al Saleh adalah :

  1. Muhammad al Zahir (1297-1326)
  2. Mahmud Malik al Zahir (1326-1345)
  3. Mansyur Malik al Zahir (1345-1346)
  4. Ahmad Malik al Zahir (1346-1383)
  5. Mahmud Malik al Zahir (1455-1477)
  6. Zainal Abidin (1477-1500)
  7. Abdullah Malik al Zahir (1501-1513)
  8. Sultan Zainal Abidin (1513-1524).

Kesultanan Samudra Pasai mencapai puncak kebesarannya pada sekitar tahun 1345, hampir sezaman dengan kerajaan Majapahit di Jawa. Untuk mengamankan diri dari Siam yang wilayahnya meliputi Jazirah Malaka, Samudra Pasai menjalin hubungan dengan Cina. Meskipun berlainan agama, hubungan politik Samudra Pasai dengan Majapahit berjalan dengan baik. Ketika Sultan Zainal Abidin terpaksa melarikan diri meninggalkan tahta, ia berlindung di Majapahit di mana raja Majapahit masih mempunyai hubungan darah dengan Sultan Zainal Abidin.

Pelarian Sultan Zainal Abidin menandai kekacauan Samudra Pasai menjelang akhir abad XIV. Dari berita-berita Cina dapat disimpulkan bahwa kekacauan disebabkan oleh perebutan kekuasaan. Munculnya kesultanan Malaka semakin melemahkan kesultanan Samudra Pasai. Kesultanan Samudra Pasai akhirnya ditaklukkan kesultanan Aceh.

Aspek Ekonomi

Kehidupan ekonomi Samudra Pasai bercorak kelautan karena letak geografisnya. Komoditi utama saat itu adalah rempah-rempah terutama lada. Pelabuhan Samudra Pasai menjadi penghubung antara perdagangan India, Cina dan Maluku. Dalam aktivitas perdagangan lokal, Samudra Pasai juga berhubungan dengan pesisir utara Jawa. Kesultanan Samudra Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut deureuham.

Kerajaan Samudra Pasai memiliki pelabuhan-pelabuhan berskala internasional untuk :

  • menambah perbekalan bagi kapal-kapal yang singgah
  • mengurus masalah-masalah perkapalan dan memperbaiki kapal yang rusak
  • mengumpulkan barang-barang yang akan dikirim ke luar negeri
  • menyimpan barang-barang yang akan dikirim ke seluruh nusantara.

Untuk menjamin keamanan perairannya, Samudra Pasai membangun angkatan laut yang kuat.

            Pada masa kemunduran Samudra Pasai, pusat perdagangan terdesak ke Pulau Bintan dan Banda Aceh karena Malaka kemudian muncul sebagai kekuatan ekonomi baru di selat Malaka.

Aspek Sosial-budaya

Kehidupan sosial Samudra Pasai diatur sesuai hukum Islam. Pada awalnya kesultanan ini menganut aliran syiah, tetapi kemudian berubah mengikuti madzhab Syafii. Dari Samudra Pasai, Islam tersiar antara lain ke Minangkabau, Palembang, Petani, Jambi, Malaka dan Jawa.

Banyak ilmuwan dan ulama asing datang ke Samudra Pasai, seperti Amir Dawlasa, Kadi Amir dan Tadjudin. Hubungan ulama dengan pemerintah sangat baik; sultan suka berdiskusi dengan para ulama. Unit pemerintahan terkecil meliputi satu kampung atau meunasah. Bangunan istana Samudra Pasai diatur seperti bangunan-bangunan istana di India. Selain mengangkat orang-orang Pasai sendiri, sultan juga mengangkat beberapa orang Persia sebagai pejabat pemerintah pusat. Semua patih Samudra Pasai bergelar amir.

Kesultanan Samudra Pasai tidak banyak meninggalkan artefak. Beberapa artefak dari zaman Samudra Pasai tidak murni buatan orang-orang Samudra Pasai, seperti beberapa batu nisan yang didatangkan dari Bombay dan Kambayat. Peninggalan budaya Samudra Pasai berupa ilmu pengetahuan dan tata pemerintahan.

Kesultanan Malaka

Aspek Politik

Berdirinya kesultanan Malaka berhubungan dengan perang Paregreg di Jawa. Paramisora, pangeran Majapahit dari Blambangan yang terusir dari daerahnya, pergi ke Tumasik (Singapura). Karena dianggap kurang aman, ia melanjutkan perjalanan hingga ke semenanjung Malaka dan mendirikan perkampungan di sana. Dengan bantuan para pengikutnya dan bajak laut setempat, Paramisora mengembangkan perkampungan nelayan tersebut menjadi kota pelabuhan yang sangat strategis.

Perkembangan ekonomi Malaka mendorong Paramisora untuk melepaskan diri dari Siam dan mendirikan kesultanan Malaka. Untuk melindungi kesultanan dari Siam dan Majapahit, Paramisora meminta bantuan Cina. Pengakuan dari Cina sendiri kemudian datang pada tahun 1405. Sultan-sultan yang berkuasa di Malaka adalah :

  1. Iskandar Syah (Paramisora), meninggal tahun 1414
  2. Muhammad Iskandar Syah (1414-1424)
  3. Sultan Mudzafar Syah (1445-1458)
  4. Sultan Mansyur Syah (1458-1477)
  5. Sultan Alauddin Syah (1477-1488)
  6. Sultan Mahmud Syah (1488-1511).

Malaka mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Sultan Mansyur Syah. Wilayah Malaka antara lain meliputi Pahang, Indragiri dan Kampar. Masa keemasan Malaka ini tercatat dalam kitab Sejarah Melayu yang terhimpun beberapa abad kemudian.

Kemunduran Malaka dimulai sejak pemerintahan Sultan Alauddin Syah. Pada tahun 1509 muncul ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque di bandar Malaka. Orang-orang Portugis ini memperoleh alasan untuk menyerang Malaka tahun 1511. Ketidakseimbangan peralatan perang Malaka dengan Portugis menyebabkan Malaka jatuh ke tangan Portugis dalam tahun yang sama. Sultan Mahmud Syah menyingkir ke Bintan dan melanjutkan kesultanannya di sana.

Aspek Ekonomi

Ketika dikunjungi Ma Huan tahun 1414, Malaka masih berupa kota kecil. Perdagangan dilakukan di jembatan di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Malaka kaya timah; timah menjadi alat pembayaran. Saat itu, pelabuhan terpenting adalah Samudra yang terletak di Aceh Utara.

Pada zaman keemasannya, Malaka menjadi tujuan akhir bagi kapal-kapal dari Maluku, Cina, India dan Arab. Para pedagang Cina dan Arab meneruskan barang-barang dari Malaka ke Eropa melalui pelabuhan Venetia. Malaka menjadi salah satu mata rantai perdagangan dari Asia Timur hingga Eropa. Selain membayar pajak dan bea cukai, para pedagang menyerahkan upeti atau persembahan kepada raja dan para pejabat kesultanan. Orang-orang di lingkungan kraton muncul menjadi investor yang mempunyai kekuatan ekonomi sangat besar. Keunggulan geoekonomis Malaka mendesak pelabuhan Samudra menjauhi jalur perdagangan internasional. Setelah Malaka dikuasai Portugis, para pedagang di selat Malaka beralih ke pelabuhan Aceh.

Aspek Sosial

Hubungan sosial masyarakat Malaka cenderung renggang karena pengaruh lingkungan yang menuntut kemandirian setiap individu. Masyarakat Malaka terdiri dari beberapa kelompok, yaitu kelompok buruh, kelompok pedagang dan kelompok investor. Kehidupan masyarakat yang bersifat individualistis ini merupakan salah satu ciri masyarakat maritim, berlawanan dengan kehidupan masyarakat agraris yang bersifat gotong royong.

Kesultanan membuat undang-undang laut yang mengatur perdagangan, pelayaran dan wilayah perairan. Undang-undang tersebut antara lain mengatur syarat-syarat kelayakan kapal untuk berlayar, jabatan-jabatan serta tanggung jawab awak kapal. Undang-undang laut ini menjadi salah satu bukti tingginya tingkat kehidupan sosial masyarakat Malaka.

Aspek Budaya

Peninggalan budaya Kesultanan Melayu terutama adalah seni sastra. Berbagai karya sastra menampilkan tokoh pahlawan pendamping sultan seperti Hang Tuah, Hang Lekir dan Hang Jabat. Bahasa Melayu ditetapkan sebagai pengantar dalam dunia perdagangan dan dunia diplomasi.

Menurut Ma Huan, sultan dan rakyat adalah pemeluk agama Islam yang taat. Agama Islam turut mempengaruhi kebesaran kesultanan Malaka, mengingat para pedagang Islam hanya mau berdagang dengan  pedagang yang seagama saja. Hal ini kemudian  terbukti ketika Malaka dikuasai Portugis, para pedagang Islam mengalihkan kegiatan mereka ke Aceh yang memeluk agama Islam.

            Bentuk kota menyerupai benteng dengan pagar tembok. Setiap sisi diberi pintu gerbang dan menara pengawas. Selain mengawasi keadaan dalam kota, menara ini juga berfungsi sebagai pengintai kapal musuh yang mendekati pantai.

Kesultanan Aceh

Aspek Politik

Menurut Hikayat Aceh, Kesultanan Aceh didirikan Sultan Ibrahim atau Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Ia adalah raja Makuta Alam yang menyatukan kesultanannya dengan kesultanan Darul Kamal. Saat itu Aceh adalah kesultanan bawahan Pedir/Pidie. Aceh mulai berkembang pesat setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis dan para pedagang muslim mengalihkan kegiatan mereka ke Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memperluas wilayah Aceh dengan bantuan Arab, Turki dan Abesinia. Ia merebut Daya di pantai barat Sumatra Utara, produsen lada dan emas di pantai timur, Pidie, Deli dan Parai. Di Aru, Sultan Ali Mughayat Syah menghancurkan armada Portugis tahun 1524. Penyerbuan Aceh ke Pidie didasarkan pada kenyataan bahwa Pidie bersahabat dengan Portugis yang tidak beragama Islam. Kehancuran Portugis di Pidie mengakibatkan banyak senjata Portugis dikuasai tentara Aceh.

Aceh beberapa kali terlibat perang dengan Portugis. Serangan terbesar dari Aceh terjadi pada pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah (1558-1604) tahun 1558. Saat itu Aceh mendapat bantuan senjata dan tentara Turki. Karena tidak pernah berhasil mengusir Portugis dari Malaka, Aceh melakukan perang ekonomi dan menguasai seluruh jalur perdagangan rempah-rempah. Perang ekonomi inipun tidak dapat dimenangkan Aceh, karena Portugis telah menancapkan kukunya di Ternate. Aceh pernah diserang Portugis pada masa Sultan Ali Riayat Syah untuk mengambilalih dan memonopoli perdagangan lada di Aceh.

Puncak kejayaan Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah Aceh meluas hingga Bengkulu, Siak, Riau dan Semenanjung Malaka kecuali bandar Malaka. Sultan Iskandar Muda berusaha mandiri dari Turki dan menjalin hubungan dengan Inggris dan Belanda. Untuk memperbaharui kekuasaan di pantai timur Sumatra, Aceh mengadakan ekspedisi yang dilakukan tentara-tentara daerah bawahan. Pada masa ini Johor akhirnya dapat ditaklukkan dan menjadi kesultanan bawahan Aceh. Sultan Iskandar Muda menyerang Portugis di Malaka tahun 1629.

Corak pemerintahan Aceh terbagi dalam dua cabang :

  • Pemerintahan sipil, dipimpin kaum bangsawan. Setiap gampong dipimpin ulebalang. Beberapa gampong digabung menjadi sagi yang dipimpin panglima sagi. Panglima sagi berhak memilih sultan. Pimpinan pemerintahan sipil bergelar Teuku.
  • Pemerintahan agama. Beberapa gampong dipersatukan dengan sebuah masjid dan disebut mukim. Kepala mukim disebut imam dan mendapat gelar Tengku.

Sultan Iskandar Muda digantikan menantunya, Iskandar Tani (1637-1642). Pada masa Sultan Iskandar Tani, Aceh mulai mengalami kemunduran. Kemunduran ini disebabkan oleh :

  • Sepeninggal Sultan Iskandar Muda tidak ada sultan yang mampu mengendalikan wilayah Aceh
  • Keberhasilan Belanda merebut Maluku (1641) membuat Belanda menguasai seluruh laut nusantara
  • Pertikaian kolompok bangsawan dengan kelompok ulama. Kelompok ulama sendiri terpecah dalam kelompok syiah dan kelompok sunni
  • Banyaknya gerakan separatis, antara lain di Minangkabau, Kampar, dan Semenanjung Malaka
  • Kekalahan perang Aceh-Portugis di Malaka mengurangi kekuatan angkatan perang Aceh.

Aspek Ekonomi

Ditinjau dari segi ekonomi, kebesaran Aceh ditunjang oleh beberapa faktor yaitu :

  • Letak ibukota Aceh sangat strategis di pintu gerbang pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan ke Malaka, Cina atau ke Jawa
  • Pelabuhan Aceh, Olele, terlindung Pulau We, Nasi dan Bireuen dari ombak besar sehingga sangat baik untuk kegiatan ekonomi
  • Aceh adalah produsen lada yang menjadi komoditas penting saat itu
  • Akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, pedagang-pedagang muslim mengalihkan kegiatan mereka ke Aceh.

Aceh mengadakan hubungan perdagangan dengan Belanda, Inggris, Arab, Turki, India, Siam, Cina dan Jepang. Komoditas ekspor Aceh adalah beras, timah, lada, emas, perak dan rempah-rempah. Aceh mengimpor porselen, kain, sutra dan minyak wangi. Kapal-kapal Aceh aktif dalam perdagangan sampai di Laut Merah.

Aspek Sosial-budaya

Feodalisme dan agama berkembang di tengah masyarakat dan kemudian terlibat persaingan sehingga melemahkan kesultanan. Sejak zaman kesultanan Perlak (abad XII-abad XIII) telah terjadi permusuhan aliran syiah dengan aliran sunni. Aliran syiah berkembang pada masa Sultan Iskandar Muda. Tokoh-tokoh aliran ini adalah Hamzah Fansuri dan Syamsudin Pasai. Sesudah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran sunni berkembang di Aceh. Tokoh pengembang aliran sunni di Aceh adalah Nuruddin ar Raniri. Ia menulis Bustanussalatin (Taman Sultan-Sultan) yang berisi sejarah dan adat istiadat Aceh serta ajaran agama Islam.

Kejayaan Aceh dalam kehidupan budaya tidak dapat diketahui dengan jelas. Perkembangan budaya Aceh tidak sepesat perkembangan aktifitas ekonomi. Peninggalan budaya Aceh secara fisik adalah bangunan Masjid Baiturrahman yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda. Aceh mewariskan sistem pemerintahan teokratis yang didasarkan pada syariat Islam.

Kerajaan Demak

Aspek Politik

Pengaruh Islam berkembang subur di pesisir utara Jawa seiring dengan berkembangnya perdagangan dan mundurnya Kerajaan Majapahit.  Masyarakat kota-kota pelabuhan dan daerah pesisir utara Jawa menjadi pemeluk agama Islam yang taat di bawah bimbingan para wali. Karena dorongan politik dan ekonomi, daerah-daerah tersebut bersatu untuk membentuk kerajaan Islam yang kekuasaannya dipusatkan di Demak atau Bintoro.

Saat itu Demak berbentuk kabupaten yang dipimpin Raden Patah dengan gelar Sultan Alam Akbar al Fatah. Ia adalah salah satu putra Brawijaya V yang tersingkir dari istana akibat persaingan keluarga dalam memperebutkan tahta Majapahit. Di bawah pimpinan Sunan Ngudug, tentara gabungan daerah pesisir utara Jawa berhasil menaklukkan Majapahit. Peralatan upacara dan pusaka Kerajaan Majapahit dipindahkan ke Demak sebagai lambang keberlanjutan kekuasaan Majapahit di Demak. Menurut catatan Tome Pires, raja yang pertama kali berkuasa di Demak adalah Raden Patah. Demak tumbuh terutama di bawah bimbingan Sunan Kudus.

Raden Patah

            Ia dinobatkan Walisongo sebagai sultan Demak dengan gelar Senopati Jimbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Untuk membantu Raden Patah, Ki Wanapala diangkat sebagai patih dengan gelar Mangkurat. Raden Patah memerintah Demak hingga tahun 1518.

            Wilayah Demak saat itu meliputi pesisir utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada masa Raden Patah, Pangeran Pati Unus yang menjadi adipati Jepara menyerang Malaka (1513). Meskipun mendapat bantuan Aceh, serangan Pati Unus dapat ditahan Portugis. Karena keberaniannya, Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor. Serangan ke Malaka bertujuan untuk menguasai jalur perdagangan. Setelah Pati Unus diangkat menjadi sultan (1518-1521), ia memperkuat pertahanan laut agar Portugis tidak dapat masuk ke Jawa.

Sultan Trenggana (1521-1546)

            Sultan Trenggana adalah saudara Pati Unus. Ketika Sultan Trenggana berkuasa, Fatahillah muncul di Demak setelah berhasil lolos dari kepungan Portugis di Pasai. Fatahillah kemudian dinikahkan dengan adik sultan. Selain berperan sebagai ulama, Fatahillah juga dapat berperan sebagai panglima perang.

            Pada tahun 1522 Jorge d’Albuquerque, gubernur Portugis di Malaka, mengutus Henrique Lame untuk menghubungi raja Samiam di Pajajaran dan bekerjasama menghadapi Islam. Misi Lame berhasil; Portugis memperoleh ijin mendirikan benteng di Sunda Kalapa, pelabuhan utama Pajajaran. Persekutuan Pajajaran-Portugis membuat keamanan Demak terancam.

            Sultan Trenggana kemudian memerintahkan Fatahillah untuk menaklukkan Jawa Barat dan tinggal di sana. Ketika Portugis kembali ke Sunda Kalapa (1527), seluruh Jawa Barat telah dikuasai Fatahillah yang berkedudukan di Banten dan akhirnya mereka terusir dari Sunda Kalapa. Keberhasilan Fatahillah mengalahkan Portugis diabadikan dengan mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Tahun 1527 kemudian diperingati sampai sekarang sebagai tahun kelahiran kota Jakarta.

            Pasukan Demak terus bergerak untuk memperluas wilayah kesultanan. Mereka menaklukkan Pajang, Mataram, Madura dan Singasari. Untuk memperkuat kekuasannya, putri Sultan Trenggana dinikahkan dengan Pangeran Langgar, bupati Madura. Sultan Trenggana mengambil Jaka Tingkir, putra bupati Pengging, sebagai menantu dan mengangkatnya menjadi adipati di Pajang.

            Di bawah pemerintahan Sultan Trenggana, Demak mencapai puncak kejayaan. Wilayah Demak meliputi hampir seluruh Jawa dan pengaruhnya dapat dirasakan hingga di Palembang, Jambi dan Kalimantan. Sultan Trenggana wafat karena dibunuh pengawalnya sendiri ketika akan menyerang Pasuruhan.

Sepeninggal Sultan Trenggana, Demak dilanda perebutan kekuasaan antara adik sultan dengan Pangeran Prawoto. Adik sultan dibunuh di tepi sungai (kemudian mendapat  julukan Pangeran Sekar Seda Ing Lepen). Pembunuhan Pangeran Sekar Seda Ing Lepen membuat anaknya, Arya Panangsang, yang berkuasa di Kadipaten Jipang (Bojonegoro sekarang) membunuh Prawoto beserta seluruh keluarganya. Tahta Kesultanan Demak jatuh ke tangan Arya Panangsang yang kejam.

            Kehancuran Arya Panangsang dimulai ketika ia membunuh adipati Japara yang sangat besar pengaruhnya. Istri adipati tersebut yang dikenal sebagai Ratu Kalinyamat kemudian muncul dan bersama para adipati ia menggerakkan pemberontakan terhadap Arya Panangsang. Arya Panangsang berhasil dibinasakan Adiwijaya, seorang Adipati Pajang (daerah Boyolali sekarang) dan pusaka Kesultanan Demak dibawa ke Pajang. Kesultanan Demak runtuh dan digantikan Kesultanan Pajang.

Kesultanan Pajang

            Kesultanan Pajang didirikan Adiwijaya atau Joko Tingkir, menantu Trenggana, sekaligus menjadi raja pertama. Kedudukan Adiwijaya disahkan oleh Sunan Giri sehingga ia berhak menggunakan gelar Sultan. Kekuasaan Kesultanan Pajang diakui seluruh kadipaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demak kini berubah menjadi kadipaten yang dipimpin Arya Pangiri, keturunan Pangeran Prawoto. Salah seorang pengikut Adiwijaya yaitu Kyai Ageng Pamanahan, yang berjasa besar dalam menggulingkan Arya Panangsang, mendapat hadiah daerah Mataram.

            Kehidupan ekonomi Kesultanan Pajang bersifat agraris. Akibat dari pergeseran kehidupan ekonomi ini adalah:

  • Pertahanan laut menjadi lemah dan para pedagang Eropa menjadi lebih berani memasuki pelabuhan-pelahbuhan di Jawa.
  • Sepeninggal Adiwijaya, daerah-daerah pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan .

            Pengganti Sultan Adiwijaya seharusnya adalah Pangeran Benowo, tetapi ia disingkirkan Arya Pangiri. Pangeran Benowo dijadikan adipati di Jipang dan tahta Kesultanan Pajang dikuasai Arya Pangiri. Kepemimpinan Arya Pangiri ternyata tidak disukai, sehingga membuka peluang Pangeran Benowo untuk merebut kembali kekuasaan atas tahta Pajang. Bersama Senapati, anak Kyai Ageng Pamanahan, Pangeran Benowo berhasil menghancurkan Arya Pangiri. Pusaka Kesultanan Pajang akhirnya dipindahkan ke Mataram, karena Pangeran Benowo tidak sanggup menghadapi kekuatan Senapati. Kesultanan Pajang runtuh dan digantikan Kerajaan Mataram.

Aspek Ekonomi

            Demak adalah penghubung produsen rempah-rempah di Maluku dengan pasar  internasional yaitu Malaka. Untuk lebih meningkatkan pandapatan kesultanan, Demak berusaha menguasai Malaka. Usaha ini gagal karena didahului Portugis. Upaya mengusir Portugis dari Malaka tidak pernah berhasil karena teknologi persenjataan Portugis jauh lebih baik dari teknologi persenjataan Demak.

            Kehidupan ekonomi Kesultanan Demak bersifat agro-maritim. Selain bergerak dalam dunia kelautan, Demak juga menyandarkan perekonomiannya pada bidang agraris. Banyaknya hasil pertanian Demak mudahnya transportasi dari Demak ke daerah pedalaman yang bersifat agraris mendorong pesatnya perkembangan perdagangan Demak. Demak adalah produsen utama beras.

Aspek Sosial-budaya

            Demak membentuk persekutuan dengan daerah pesisir utara Jawa yang telah beragama Islam. Kehidupan masyarakat sesuai dengan ajaran agama Islam, meskipun beberapa tradisi pra Islam terus dilanjutkan.

            Kesultanan Demak menjadi pusat penyebaran agamaa Islam yang didukung para wali. Perkembangan Kesultanan Demak tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga; ia banyak memberikan saran sehingga Demak menjadi negara teokrasi. Bangunan peninggalan budaya jaman Kesultanan Demak adalah Masjid Agung Demak yang dibangun Sunan Kalijaga.

Kesultanan Banten

Aspek Politik

Seluruh daerah pesisir Jawa Barat dan Banten telah ditaklukkan Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah kemudian membentuk pemerintahan daerah yang dipusatkan di Banten dan Cirebon. Cirebon diserahkan kepada Pangeran Pasarean, sedangkan Fatahillah sendiri berkuasa di Banten. Ketika Pangeran Pasarean wafat (1552), pemerintahan Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin (1552-1570) dan Cirebon dikendalikan Fatahillah sebelum akhirnya diserahkan kepada seorang cucunya. Fatahillah kemudian mengundurkan diri ke Gunungjati hingga wafat (1570).

Banten melepaskan diri dari Kesultanan Demak ketika terjadi perebutan kekuasaan di ibukota Demak (1568). Hasanuddin menjadi sultan pertama sekaligus dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Di bawah pemerintahan Hasanuddin, wilayah Banten meluas hingga ke Lampung dan Bengkulu, daerah penghasil lada di Sumatra Selatan. Hasanuddin digantikan anaknya, Panembahan Yusuf (1570-1580). Pada tahun 1579 Panembahan Yusuf menaklukkan Pajajaran, satu-satunya kerajaan Hindu yang tersisa di Jawa. Pemerintahan Panembahan Yusuf  dilanjutkan Maulana Mohammad (1580-1596). Maulana Mohammad gugur ketika berusaha menaklukkan Palembang dan digantikan Abdulmufakhir. Karena Abdulmufakhir masih kanak-kanak, pemerintahannya dikendalikan Pangeran Ranamenggala hingga tahun 1624. Di bawah kendali Pangeran Ranamenggala, Banten berkembang dengan pesat.

Pada tahun 1596 Belanda muncul untuk pertama kali di Jawa di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Karena terlibat konflik dengan Banten dan Portugis, Belanda terpaksa meninggalkan Banten. Mereka menyusuri pesisir utara Jawa sebelum akhirnya kembali ke Belanda.

Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). Kebesaran dan kekuatan Kesultanan Banten membuat VOC merasa sangat terancam, karena jarak antara ibukota Banten dengan Batavia sangat dekat. VOC berusaha menciptakan kesempatan menaklukkan  Kerajan Banten dengan mendekati salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa yang bergelar Sultan Haji.

Permusuhan Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC memuncak ketika Sultan Ageng Tirtayasa menyatakan dukungannya kepada Trunojoyo yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Amangkurat II. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya mengumumkan perang ketika beberapa orang pedagang Banten dianiaya VOC (1680). Sebelum Sultan Ageng Tirtayasa menggerakkan pasukannya, Sultan Haji mengadakan kudeta dan menahan Sultan Ageng Tirtayasa di dalam istana. Lemahnya dukungan terhadap Sultan Haji membuat Sultan Haji kemudian meminta bantuan VOC. Perang saudara selesai ketika Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya menyerah (1683). Setelah tertangkap, Sultan Ageng Tirtayasa ditahan di Batavia hingga wafat (1695).

Sultan Haji akhirnya menjadi raja menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa. Ia dipaksa VOC untuk menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan yang isinya antara lain adalah:

  • VOC mengakui Sultan Haji sebagai sultan Banten.
  • Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon.
  • VOC memonopoli ekspor lada dan impor kain di seluruh wilayah Banten.
  • Banten dilarang berdagang di Maluku.
  • Wilayah Banten dan VOC dibatasi Sungai Cisadane.

Perjanjian tersebut mengakhiri kemerdekaan Kesultanan Banten. Sikap Sultan Haji yang mendukung VOC dan perang saudara yang selalu melanda Banten membuat rakyat Banten bangkit dan melakukan perlawanan. Salah satu bentuk perlawanan tersebut adalah pemberontakan Kiai Tapa yang berpusat di Muara pada abad XVIII.

Aspek Ekonomi

Beberapa faktor pendukung berkembangnya Banten sebagai pusat perdagangan antara lain adalah :

  • Banten terletak di teluk dan memiliki pelabuhan yang baik untuk melakukan aktifitas perdagangan.
  • Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan kekuatan ekonomi Banten bertambah. Para pedagang muslim tidak mau berhubungan dengan Malaka dan lebih memilih Banten sebagai pusat perdagangan baru.
  • Banten memiliki komoditas ekspor penting yaitu lada yang dihasilkan daerah Lampung.

Kesultanan Banten menerapkan sistem perdagangan bebas. Kebijakan ekonomi ini menyulut permusuhan dengan VOC yang menghendaki monopoli perdagangan di Banten. Sebagaimana pedagang lain, keberadaan Banten sebagai pusat perdagangan lada sangat menarik minat VOC yang bermarkas di Batavia. Para pedagang Banten berhubungan dengan bangsa-bangsa Eropa dan Timur Tengah. Ketika VOC mulai menaklukkan Nusantara, para pedagang jarak jauh lebih memilih Banten sebagai tempat tinggal mereka.

Aspek Sosial-budaya

Kehidupan sosial masyarakat Banten didasarkan pada syariat Islam. Sisa-sisa pendukung Kerajaan Pajajaran mengundurkan diri ke pedalaman Banten Selatan dan dikenal sebagai Suku Badui. Suku ini menganut kepercayaan Pasundan Kawitan. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menutup diri dari pengaruh luar.

Perkampungan-perkampungan khusus bermunculan di sekitar pelabuhan Banten, seperti Kampung Keling, Pekojan, Pecinan, Kampung Melayu, Jampung Jawa, Kampung Pande, Kampung Pajunan (untuk pembuat barang pecah belah) dan Kauman . Kehidupan sosial Banten yang pada awalnya tertata rapi menjadi kacau ketika Belanda mulai mencampuri urusan dalam negeri Banten.

Peninggalan budaya Kesultanan Banten adalah Majid Agung Banten dan kraton Banten yang dibangun Jan Lucas Cardeel (Belanda muslim yang lari dari Batavia dan bergabung dengan Banten kemudian diberi gelar Wiranagara), Benteng Surosowan dan saluran-saluran air. Di Cirebon, Kesultanan Banten meninggalkan Kraton Kasepuhan dan taman pemandian Sunyaragi.

Kesultanan Mataram

Aspek Politik

Kesultanan Mataram menandai puncak jaman Islam di Jawa. Raja-raja yang berkuasa di Mataram sebelum terpecah belah adalah :

  1. Sutawijaya/Senopati/Panembahan Senopati (1584-1601)
  2. Mas Jolang/Sultan Anyakrawati/Panembahan Seda Krapyak (1601-1613)
  3. Mas Rangsang/Sultan Agung Anyakrakusuma Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi (1613-1645)
  4. Amangkurat I (1645-1677)
  5. Amangkurat II (1677-1703)
  6. Amangkurat III/Sunan Mas tidak diakui VOC; VOC mengangkat Pangeran Puger (saudara Amangkurat II) sebagai raja dengan gelar Pakubuwono I (1703-1719)
  7. Amangkurat IV/Sunan Prabu (1719-1727)
  8. Pakubuwono II (1727-1749)
  9. Pakubuwono III (1749-1788).

Masa Kejayaan Mataram: Pemerintahan Sultan Agung

            Pada awal pemerintahannya, Sultan Agung berusaha mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram. Ia menaklukkan seluruh daerah pesisir utara Jawa yang sebelumnya melepaskan diri dari Kesultanan Demak, seperti Lasem, Pasuruan (1617), Tuban (1620), Sukadana (1622), Madura (1624) dan Surabaya (1625). Sultan Agung berusaha mengikat Surabaya dengan cara mengambil Pangeran Pekik, bupati Surabaya, untuk dinikahkan dengan putrinya, Ratu Wandan Sari. Di Madura, adipati Sampang diangkat menjadi bupati Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat. Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon, sehingga daerah ini juga mengakui kekuasaan Mataram.

            Dalam tahun 1628 dan tahun 1629 Sultan Agung menyerang Batavia tetapi gagal. Penyebab kegagalan serangan Sultan Agung adalah :

  • Sultan Agung mengabaikan kekuatan laut
  • Jarak Batavia dengan pusat kekuatan Mataram di Jawa Tengah terlalu jauh
  • Prajurit Mataram kekurangan bahan makanan
  • Teknologi persenjataan VOC lebih baik dari Mataram
  • Datangnya musim hujan
  • Berjangkitnya penyakit menular yang menelan banyak korban.

Mataram kemudian menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan Portugis untuk menandingi kekuatan VOC. Karena kekuatan VOC lebih besar dari Portugis, Sultan Agung akhirnya menjalin hubungan yang lebih bersahabat dengan VOC. Serangan Mataram terhadap Batavia membuat VOC menghapus blokade terhadap Banten dengan harapan Banten tidak bekerjasama dengan Mataram untuk memusuhi VOC.

            Sejak tahun 1630 Sultan Agung memusatkan perhatian ke dalam negeri. Beberapa tindakan Sultan Agung adalah :

  • Membuka daerah persawahan di Karawang
  • Menyusun masyarakat feodal. Para pejabat pemerintah mendapat gaji berupa tanah garapan atau pajak tanah
  • Meningkatkan kehidupan seni budaya
  • Memajukan kesusasteraan Jawa.

Kesultanan Mataram mulai mengalami kemunduran setelah Sultan Agung wafat tahun 1645. Sultan Agung dimakamkan di Imogiri dan pemerintahannya dilanjutkan Amangkurat I.

Masa Kemunduran Mataram: Intervensi Belanda

            Pada masa Amangkurat I muncul pemberontakan Trunojoyo, keturunan Cakraningrat dari Madura. Ia mendapat dukungan rakyat Madura, ulama Giri di bawah pimpinan Kyai Puspo, pelaut Makasar di bawah pimpinan Kraeng Galesung dan Montemarono serta pemerintah Banten yang saat itu masih berdaulat penuh. Kaum pemberontak berhasil menguasai Jawa Timur dan ibukota Kartasura. Amangkurat I  terpaksa melarikan diri dan meminta bantuan VOC di Batavia.

            Amangkurat I wafat dalam pelariannya di Tegalwangi. Usaha Amangkurat I dilanjutkan putranya yang kemudian dinobatkan VOC di Batavia sebagai Amangkurat II. VOC mengajukan perjanjian Jepara (1679) sebagai imbalan atas bantuan VOC kepada Amangkurat II. Isi perjanjian tersebut adalah :

  • Amangkurat II diangkat sebagai raja Mataram dan menerima bantuan VOC
  • VOC memperoleh pelabuhan Semarang dan memperoleh hak berdagang
  • Mataram membayar biaya perang yang dikeluarkan VOC.

Di bawah perlindungan Cornelis de Speelman dan Jonker, Amangkurat II kembali ke ibukota. Setelah berhasil menindas pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura (1680) yang dilindungi benteng VOC. Ketika menyadari bahwa Mataram sangat dirugikan VOC, Amangkurat II bekerjasama dengan Untung Surapati menggerakkan perlawanan terhadap Belanda (1681-1706).

Amangkurat II digantikan Sunan Mas dan melanjutkan kerjasama dengan Untung Surapati. Akibatnya, VOC hanya mengakui adik Sunan Mas yaitu Pangeran Puger dengan gelar Pakubuwono I. Sebagai imbalan atas bantuan yang telah diberikan VOC dalam menghancurkan Sunan Mas, Pangeran Puger terpaksa melepas wilayah Priangan.

Pada masa Pakubuwono II, Gubernur Jenderal VOC memerintahkan pembunuhan bangsa Cina sebagai hukuman atas pemberontakan mereka. Bangsa Cina menyingkir ke Jawa Tengah dan bersama Pakubuwono II mereka menghancurkan benteng Belanda di Kartasura. Belanda dibantu Cakraningrat dengan imbalan akan diakui sebagai adipati merdeka. Pengkhianatan Pakubuwono II membuat rakyat mengangkat Raden Mas Garendi sebagai raja dengan gelar Sunan Kencet. Rakyat berhasil mengusir Pakubuwono II dan membakar ibukota. Pakubuwono II dapat kembali ke ibukota karena dibantu VOC. Ibukota kemudian dipindahkan ke  Surakarta (1744). Dari konflik tersebut, VOC memperoleh pesisir utara Jawa. Ketika Pakubuwono II sakit keras, ia tertipu dan menyerahkan seluruh Mataram kepada VOC. Sejak saat itu kedaulatan Mataram berada di tangan VOC, meskipun VOC masih mengakui Pakubuwono III sebagai raja Mataram.

Sejak masa Pakubuwono II, Mataram dilanda pemberontakan Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyawa) dan Pangeran Mangkubumi, adik Pakubuwono III. Melalui serangkaian perundingan antara Pangeran Mangkubumi, Pakubuwono II dan VOC muncul Perjanjian Gianti (1755). Isi perjanjian tersebut antara lain adalah pembagian kesultanan Mataram menjadi dua kerajaan, yaitu :

  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, diperintah oleh Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792)
  • Kasunanan Surakarta, diperintah oleh Susuhunan Pakubuwono III (1749-1792).

Dua tahun kemudian, VOC berhasil menghentikan pemberontakan Raden Mas Said dengan perjanjian Salatiga (1757). Dalam perjanjian tersebut ditetapkan bahwa Raden Mas Said mendapat satu daerah kadipaten dalam Kasunanan Surakarta dan mendapat gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro I (1757-1795). Raden Mas Said berhak memiliki tentara yang kemudian terkenal dengan nama Legioen Mangkunegara. Tentara Kadipaten Mangkunegaran ini terdiri dari pasukan darat, pasukan berkuda dan pasukan meriam yang dapat dipergunakan VOC. Setengah abad kemudian Inggris mempersempit wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan membentuk Kadipaten Pakualaman yang merdeka. Kadipaten ini diberikan kepada Pangeran Natakusuma, adik Hamengkubuwono II. Pangeran Natakusuma menjadi adipati dengan gelar Paku Alam I (1813-1829).

Aspek Ekonomi

Kesultanan Mataram adalah negara agraris. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram menjadi eksportir beras terbesar. Konflik Mataram-VOC salahsatunya terjadi di Jepara ketika VOC bermaksud mendirikan gudang sebagai basis operasi perdagangan. Untuk menghadapi VOC, Mataram menjalin hubungan dengan Portugis. Portugis memerlukan beras Mataram dan berjanji membantu Mataram dari laut, namun janji itu tidak pernah dipenuhi.

Perlawanan Mataram terhadap VOC dilakukan dengan memblokade dan melarang seluruh pengiriman barang ke Batavia. Menjelang akhir pemerintahan Sultan Agung, daerah Karawang yang masih berupa hutan dibuka dan dijadikan persawahan. Selain untuk memenuhi kebutuhan beras, pembukaan hutan ini merupakan salah satu bentuk persiapan Mataram untuk menyerang Batavia.

Daerah-daerah pesisir mengembangkan kehidupan kelautan. Mereka cenderung menghendaki kemerdekaan atau otonomi yang lebih besar dari daerah pedalaman.

Aspek Sosial

Kebesaran kesultanan, kewibawaan sultan dan status sosial sultan dicerminkan oleh bangunan kraton dan ragam hiasnya. Keagungan kesultanan juga dicerminkan oleh semaraknya upacara-upacara dan perayaan yang diadakan kesultanan.

Pejabat keagamaan disebut abdi dalem pemetakan atau abdi dalem pamutihan yang terdiri dari penghulu, kotib, naib dan suranata. Penghulu kraton merupakan jabatan tertinggi dengan tugas memimpin ritual kepercayaan. Di bidang peradilan dalam lingkungan kraton terdapat jeksa yang berhak mengemukakan bukti dan tuntutan. Kekuasaan kehakiman dipegang langsung oleh raja.

Para pejabat kesultanan mendapat tanah yang hasilnya menjadi upah pejabat yang bersangkutan, sedangkan sebagian dimasukkan ke kas kesultanan. Mereka kemudian muncul menjadi tuan-tuan tanah yang pada akhirnya menganggap daerah kekuasaannya sebagai milik pribadi. Sistem upah seperti ini masih berlanjut dalam bentuk tanah bengkok atau tanah kas desa. Untuk menciptakan ketertiban, pemerintah membuat peraturan-peraturan yang dinamakan angger-angger.

Aspek Budaya

Budaya asli, Hindu-Budha dan Islam berakulturasi membentuk budaya kejawen. Budaya kejawen muncul dalam upacara Grebeg Mulud dan Grebeg Syawal. Upacara ini berupa kenduri gunungan yang telah menjadi tradisi sejak jaman Majapahit.

Sultan Agung menciptakan tarikh Jawa-Islam yang dimulai sejak tahun 1555 Saka. Tahun Hindu yang didasarkan pada peredaran matahari dilanjutkan tahun Jawa-Islam yang didasarkan pada peredaran bulan.

Suasana kesultanan yang tenteram mendorong perkembangan seni sastra. Karya sastra peninggalan Kesultanan Mataram adalah kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Asthabrata berisi ajaran tabiat baik yang bersumber dari kitab Ramayana. Sultan Agung sendiri mengarang kitab filsafat berjudul Sastra Gending.

Kesultanan Makasar

Aspek Politik

Pada abad XVI di derah Sulawesi Selatan terdapat Kesultanan Gowa, Tallo, Bone, Soppeng dan Luwu. Dalam perkembangannya kemudian, Kesultanan Gowa dan Tallo menyatu dalam Kesultanan Makasar. Nama Makasar sendiri diambil dari nama ibukota Kesultanan Gowa.

Makasar memasuki zaman Islam ketika Raja Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, Karaeng Mattoaya mengambil gelar Sultan Abdullah dengan julukan Awalul Islam dan raja Gowa, Daeng Manrabia mengambil gelar Sultan Alauddin (1591-1639). Di bawah pamerintahan Sultan Alauddin, Makasar memperluas kekuasaan hingga meliputi sebagian besar Sulawesi dan Nusatenggara. Sultan Alauddin sangat menentang keberadaan VOC di Maluku dengan keyakinan bahwa Allah menciptakan lautan untuk semua hamba-Nya. Permusuhan dengan VOC diawali sejak VOC menipu para pembesar Makasar (1616). Saat itu mereka diundang untuk suatu perjamuan di atas kapal VOC, tetapi senjata mereka dilucuti dan akhirnya terjadi perkelahian yang menimbulkan banyak korban di pihak Makasar. Setelah peristiwa tersebut, Makasar sering terlibat konflik dengan VOC. Sultan Alauddin digantikan Malik Said atau Sultan Muhammad Said (1639-1653). Sebagaimana ayahnya, Malik Said aktif menentang VOC di Maluku.

Kesultanan Makasar mengalami kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1669). Pada tahun 1660 ia menumpas pemberontakan orang-orang Bone yang dipimpin Aru Palaka. Bersama pengikutnya, Aru Palaka kemudian melarikan diri dan meminta bantuan VOC di Batavia. Perlindungan yang diberikan VOC kepada Aru Palaka membuat hubungan Makasar-VOC semakin menegang. Sikap Sultan Hasanuddin yang selalu menentang VOC membuat ia dijuluki Ayam Jantan dari Timur.

VOC akhirnya memperoleh kesempatan menaklukkan Makasar pada tahun 1665. Sebuah kapal VOC terdampar di Makasar dan dirampok. Ketika seorang pejabat VOC memeriksa kapal tersebut, ia dan anak buahnya dibunuh. VOC kemdian mengirimkan tentaranya, termasuk Aru Palaka, untuk menghancurkan Makasar (1666). Setelah bertempur selama setahun, VOC beserta sekutu-sekutunya menang; sedangkan Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667). Isi perjanjian tesebut antara lain adalah:

  • VOC berhak memonopoli perdagangan di Makasar
  • VOC berhak mendirikan benteng di Makasar
  • Makasar harus melepaskan kerajaan-kerajaan bawahan seperti Bone dan pulau-pulau di luar Sulawesi.
  • Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Perjanjian Bongaya tidak dapat menghentikan perlawanan Sultan Hasanuddin. Ia baru menyerah setelah benteng Sombaopu, pertahanan terakhir yang dimiliki Makasar, jatuh ke tangan VOC dalam keadaan hancur. Tahta kesultanan kemudian diserahkan kepada Mapasomba, putra mahkota yang masih berumur 13 tahun.

Akibat perjanjian Bongaya adalah:

  • Bone dan sekitarnya lepas dari kekuasaan Makasar
  • Benteng di ibukota Makasar diserahkan kepada VOC. Oleh VOC benteng tersebut diberi nama Rotterdam.
  • Kesultanan Makasar runtuh; kedudukannya digantikan oleh Kesultanan Bone
  • Kekuasaan ekonomi Makasar atas daerah Minahasa, Butung (Buton) dan Sumbawa berakhir. Para pedagang selain VOC terusir dari daerah Makasar dan sekitarnya
  • VOC menguasai Sangir, Talaud, Gorontalo dan sekitarnya.

Apek Ekonomi

Kesultanan Makasar mengembangkan kehidupan ekonomi maritim. Untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah, Makasar menaklukkan Selayar, Butung, Sumbawa dan Lombok. Komoditas perdagangan Makasar adalah gula, beras, rempah-rempah, kain India, keramik Cina dan berlian Banjar. Pelabuhan Makasar dikunjungi pedagang-pedagang Portugis, Inggris, Denmark, Malaka, Aceh, Maluku dan daerah-daerah lain.

Puncak kejayaan ekonomi Makasar terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Beberapa faktor penyebabnya adalah:

  • Makasar terletak di antara jalur perdagangan Maluku-Malaka
  • Pelabuhan Makasar terlindung dari angin topan dan gelombang besar
  • Pendudukan Maluku oleh VOC membuat para pedagang selain VOC mengalihkan kegiatan mereka ke Makasar.

Kekuatan ekonomi Makasar mengancam VOC di Maluku. Beberapa kali VOC berperang dengan Makasar karena motif ekonomi; VOC menganggap Makasar adalah pasar gelap, karena rempah-rempah dari Maluku yang dikuasai VOC juga diperdagangkan di Makasar. Persaingan ekonomi dalam perdagangan rempah-rempah antara Makasar dengan VOC kemudian berkembang menjadi konflik politik dan berakhir dengan runtuhnya Kesultanan Makasar.

Aspek Sosial-budaya

Kehidupan masyarakat diatur sesuai syariat Islam. Semangat amar ma’ruf nahi munkar turut mendorong sultan untuk memperluas dan membangun kesultanan. Beberapa jabatan dalam Kesultanan Makasar adalah:

  • Kasuwiyang Salapanga (pengabdi sembilan), kemudian berubah menjadi Bate Salapanga (bendera sembilan). Dewan ini bertugas sebagai pembantu sultan yang menjalankan undang-undang pemerintahan dan diawasi seorang Paccalaya (hakim).
  • Pabicarabutta, dibantu Tumailalang Matowa dan Tumailalang Malolo. Tumailalang Matowa menyampaikan perintah sultan kepada Bate Salapanga, sedangkan Tumailalang Malolo mengurusi istana.
  • Anrong Guru Lampona Tumakjannangang (panglima perang).
  • Opu Bali Rante (bendahara kasultanan). Ia juga menangani urusan perdagangan dan hubungan ke luar.
  • Kadhi, Imam, Khatib dan Bilal.

Para pelaut Makasar menggunakan perahu-perahu jenis pinisi dan lambo. Untuk menciptakan keteraturan dalam dunia pelayaran, kesultanan menyusun kitab hukum kaut dan perdagangan Ade’ Allopiloping Bicaranna Pabbalu’e dan naskah lontar karya Amanna Goppa. Dalam bidang pengetahuan, masyarakat Makasar mengembangkan tulisan Bugis yang mirip tulisan Arab. Munculnya tulisan Bugis ini adalah salah satu bentuk akulturasi budaya Nusantara-Islam.

Kesultanan Ternate-Tidore

  1. Aspek Politik

Pengaruh Islam telah memasuki daerah Maluku sejak abad XIV. Raja Ternate keduabelas, Molomateya (1350-1357), bersahabat dengan orang Arab yang memberi petunjuk tentang cara membuat kapal. Masuknya pengaruh Islam di Maluku tidak lepas dari peran para pedagang muslim yang membeli rempah-rempah di daerah tersebut.

Pada tahun 1521 bangsa Portugis bertemu dengan bangsa Spanyol di Maluku. Saat itu Ternate terlibat konflik dengan Tidore. Akibatnya, Portugis dan Spanyol langsung terseret konflik; Portugis membantu Ternate sedangkan Spanyol membantu Tidore. Konflik Portugis-Spanyol diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa yang diprakarsai Paus. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan bahwa Spanyol harus pindah ke Filipina dan Portugis tetap di Maluku.

Portugis kemudian membangun benteng Sao Paulo di Ternate dan memonopoli perdagangan. Tindakan Portugis memicu perang dengan Ternate yang saat itu dipimpin Sultan Hairun (1550-1570). Ketika Sultan Hairun tertangkap, gerakan perlawanan justru meluas ke Tidore, musuh lama Ternate. Setelah Beberapa puluh tahun bermusuhan, kini Ternate dan Tidore bersatu untuk menghadapi musuh bersama yaitu Portugis. Kerasnya perlawanan Ternate-Tidore memaksa Portugis melepaskan Sultan Hairun dan merundingkan perdamaian.

Perundingan diadakan di Benteng Sao Paulo dan menghasilkan persetujuan perdamaian. Di tengah pesta persetujuan perdamaian tersebut Sultan Hairun ditusuk dari belakang hingga wafat. Pembunuhan Sultan Hairun menimbulkan kemarahan rakyat. Portugis kembali dikepung hingga lima tahun oleh Ternate-Tidore; kali ini dipimpin Sultan Baabullah (1570-1583), putra Sultan Hairun. Akhirnya Portugis menyerah dan terusir dari Ternate. Pada tahun 1599 Portugis mencoba kembali menduduki Ternate, tetapi usaha mereka hanya menambah kebencian rakyat Ternate. Portugis kembali terusir dan hanya mampu bergerak di Maluku Selatan.

Ketika VOC datang tahun 1605, mereka mendapat sambutan yang sangat baik. Dengan mudah VOC mendapat pangkalan di Ambon, Ternate, Tidore dan Halmahera. Kedatangan VOC menggeser Portugis ke Timor Timur.

Kesempatan menguasai Ternate muncul ketika terjadi perebutan kekuasaan di istana (1650). Sultan Mandarsyah melarikan diri ke benteng VOC dan meminta bantuan. Dari konflik intern tersebut, VOC memperoleh daerah Ambon dan monopoli penanaman serta perdagangan cengkeh. Rakyat Maluku menentang monopoli VOC dengan mengadakan perang total hingga tahun 1743. Perang ini dipimpin oleh Kakiali dan mendapat dukungan para pelaut Makasar.

Perang rakyat Tidore berlangsung tanpa henti dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805). Ia mempersatukan kekuatan rakyat Ternate-Tidore dan mendapat bantuan Inggris. Ketika Sultan Nuku berkuasa, Portugis terusir dari Tidore.

Aspek Ekonomi

Ternate-Tidore adalah produsen rempah-rempah, terutama cengkah dan pala. Pada awalnya, cengkeh dan pala dipetik dari hutan. Pembudidayaan cengkeh mulai dilakukan di perkebunan pada abad XII. Perkebunan cengkeh diusahakan di Pulau Buru, Ambon dan Seram; sedangkan pala diusahakan di Kepulauan Banda.

Maluku berkembang dan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Kegiatan ekonomi dilakukan oleh para pedagang Jawa, Sulawesi, Melayu, Persia dan Eropa. Selain rempah-rempah, komoditas perdaganan saat itu adalah beras, garam kacang-kacangan dari Jawa Timur, emas, sagu dan burung yang diawetkan dari daerah Irian.

Untuk meningkatkan kekuatan ekonomi, Ternate dan Tidore mambentuk persekutuan-persekutuan dagang yang terdiri dari kesultanan-kesultanan di Maluku. Persekutuan-persekutuan tersebut adalah:

  • Uli Lima (persekutuan lima bersaudara) dipimpin Ternate. Uli Lima terdiri dari Ternate, Bacan, Obi, Seram dan Ambon.
  • Uli Siwa (persekutuan sembilan bersaudara) dipimpin Tidore. Uli Siwa terdiri dari Tidore, Makyan, Halmahera dan kepulauan antara Halmahera hingga Irian.

Persekutuan in kemudian bersaing untuk menguasai perdagangan di seluruh Maluku. Persaingan Uli Siwa-Uli Lima berakhir ketika mereka kemudian bersatu untuk mengusir bangsa-bangsa Eropa yang berusaha menguasai Maluku.

            Pada awal abad XVII, Maluku mengalami kelebihan produksi cengkeh. VOC memecahkan masalah tersebut dengan melarang penanaman cengkeh di luar wilayah VOC dan menganggap cengkeh yang ditanam di luar wilayah VOC adalah cengkeh liar yang harus dimusnahkan. Untuk mempertahankan monopoli penanaman dan perdagangan rempah-rempah, VOC mengadakan gerakan Hongi dengan tugas:

  • membunuh rakyat yang menjual hasil bumi kepada pihak-pihak di luar VOC
  • menghancurkan kebun pala dan cengkeh di luar wilayah VOC untuk mengendalikan harga.

Korban pertama dari gerakan Hongi adalah Banda; seluruh penduduknya dibunuh, yang masih hidup dijadikan budak di Batavia dan seluruh kebun yang ada dihancurkan.

Aspek Sosial-budaya

Islamisasi Ternate-Tidore berjalan melalui saluran perdagangan dan pendidikan. Pemuda-pemuda Ternate-Tidore, termasuk Kakiali dan Sultan Zainal Abidin, memperdalam agama di pesantren Sunan Giri di Gresik. Salah satu peninggalan budaya Islam Ternate-Tidore adalah Masjid Ternate.

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa membawa pengaruh Kristen di Maluku. Selain berdagang, mereka juga berusaha mengkristenkan penduduk setempat. Agama Kristen berkembang di Ternate, Halmahera dan Ambon. Tokoh perintis Kristenisasi Maluku adalah Franciscus Xaverius; ia mengkristenkan Maluku pada abad XV.

Setelah Maluku dikuasai VOC, para sultan dan pemimpin dipisahkan dari rakyat; mereka diberi tunjangan dan kedudukan penting dalam VOC. Sultan Ternate mendapat tunjangan 12 ribu ringgit per tahun. Imbalannya, VOC mendapat izin memusnahkan dan melarang tanaman cengkeh; cengkeh hanya boleh ditaman di wilayah VOC saja.

Kesultanan Ternate-Tidore mewariskan budaya kelautan. Salahsatunya adalah pembuatan berbagai jenis kapal dan perahu untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah perahu jenis kora-kora. Perahu ini mempunyai peran yang besar dalam mengusir Portugis dari Maluku.

Daftar Sumber

Badrika, IW. 1994. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU Kelas 1. Jakarta: Erlangga.

Karso dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Umum untuk Sekolah Menengah Umum Jilid I. Bandung: Angkasa.

Kartodirdjo, S dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Depdikbud.

Ricklefs, MC. 1981. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

Purwito, E dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Umum 1. Surakarta: Tiga Serangkai.

Qomaruddin, SW dkk. 1994. Sejarah 1. Jakarta: Yudhistira.

Slametmuljana. 1980. Dari Holotan ke Jayakarta. Jakarta: Idayu.

Soekidi dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Umum 1. Surakarta: Pabelan.

Soekmono, R. 1995. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Jakarta: Kanisius.

Van den Berg, HJ dkk.—. Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia I. Djakarta: JB Wolter.

1984/1985. Perkembangan Islam di Indonesia dan Perlawanan terhadap Penjajah di Indonesia: Materi Penataran Penyegaran/Tipe A untuk Instruktur Tingkat SMTA. Malang: Pusat Pengembangan Penataran Guru IPS dan PMP Malang.

Oleh: Muhammad Taufik Al Fadjar, S.Pd., M.Pd. (Guru IPS SMPN 4 Batu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elearning Snemba © 2018