Elearning Snemba

E-Learning SMPN 4 Batu

Kerajaan Hindu di Indonesia

Kerajaan Kutai

 Sumber Prasasti

Kerajaan Kutai meninggalkan 7 buah yupa bertulis yang bertarikh awal abad V. Yupa-yupa yang ditemukan di daerah aliran Sungai Mahakam Kalimantan Timur ini menandai akhir jaman prasejarah dan dimulainya jaman sejarah Nusantara. Secara umum isi yupa-yupa tersebut adalah:

  • Nama tiga orang raja yang memerintah secara turun temurun, yaitu Kundunga, Aswawarman dan Mulawarman
  • Pemberian ternak dan tanah yang disebut sebagai waprakeswara kepada para brahmana.

Aspek Ekonomi

Kehidupan ekonomi Kutai didukung keadaan alam yang terletak di tepi Sungai Mahakam. Perdagangan menjadi salah satu bidang pekerjaan masyarakat Kutai. Sungai Mahakam menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan Kutai dengan Laut Jawa.

Aspek Sosial

Sebagian penduduk Kutai telah memangku budaya Hindu-Budha. Hal ini tampak dari penguasaan bahasa Sansekerta dan huruf  Pallawa yang berasal dari India. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa resmi untuk masalah-masalah keagamaan dan pengunaan bahasa ini sangat terbatas di kalangan brahmana saja. Dapat disimpulkan bahwa saat itu setidaknya telah muncul kasta brahmana dan kasta ksatria. Kasta-kasta yang lain belum terbentuk karena kelompok-kelompok masyarakat lain masih memangku budaya lama.

Aspek Budaya

Kerajaan Kutai mulai terkena pengaruh budaya Hindu-Budha sejak masa Aswawarman, karena Kundungga adalah nama yang umum di Nusantara. Budaya Hindu-Budha pada awal sekali dipangku kalangan istana; orang-orang di luar tembok istana memangku budaya lama. Mulawarman sendiri memeluk agama Hindu, terbukti dari pemberian tanah yang disebut sebagai waprakeswara (tempat suci untuk memuja Brahma, Wisnu dan Siwa).

Kerajaan Tarumanegara

Sumber Prasasti

  • Prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi, Pasir Awi, Muara Cianten, Cidanghiang/Lebak dan prasasti Pasir Koleangkak. Isi: menyamakan kaki Purnawarman dengan kaki Wisnu dan menyebut nama negeri Taruma.
  • Prasasti Tugu. Isi:
  • menyebut penggalian sungai bernama Candrabhaga (Sungai Bekasi sekarang) dan Sungai Gomati oleh Purnawarman
  • menyebut unsur penanggalan Phalguna dan Caitra (sekitar bulan Pebruari-April)
  • menyebut upacara selamatan oleh brahmana disertai hadiah seribu ekor sapi
  • menyebut dua nama selain Purnawarman.

Aspek Ekonomi

Masyarakat Tarumanegara bekerja di sektor pertambangan, perikanan, perdagangan, pertanian, pelayaran dan peternakan. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain adalah cula badak, gading, kulit penyu, emas dan perak. Untuk mengatasi banjir yang merusak lahan pertanian, dibuat saluran air yang diberi nama Gomati oleh Purnawarman. Usaha peternakan memungkinkan pemberian hadiah seribu ekor sapi. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, sapi digunakan pula sebagai alat transportasi darat. Orang-orang Tarumanegara melakukan pelayaran ke luar wilayahnya karena letak Tarumanegara di jalur perdagangan Nusantara dengan India dan Cina. Golongan-golongan masyarakat didasarkan pada pekerjaan, yaitu golongan petani, pemburu, pedagang, pelaut, nelayan dan peternak.

Aspek Budaya

Ditinjau dari segi budaya, terdapat dua kelompok masyarakat, yaitu pemangku budaya Hindu-Budha dan pemangku budaya asli. Kelompok pertama terbatas pada lingkungan istana dan kelompok kedua meliputi bagian terbesar penduduk Tarumanegara. Dalam beberapa hal, kedua kelompok ini bekerjasama. Menurut Fa Hsien, terdapat tiga macam agama, yaitu Hindu, Budha dan agama yang “kotor”. Agama yang “kotor” ini diduga adalah sistem religi asli Nusantara yang tidak dipahami Fa Hsien.

  1. Aspek Politik

Ibukota Tarumanegara terletak di tepi Sungai Bekasi, tepatnya kurang lebih di kota Bekasi sekarang. Wilayah Tarumanegara setidaknya meliputi Jawa Barat dengan batas-batas Sungai Citarum, Laut Jawa, Lebak di Banten Selatan dan Samudera Hindia. Dalam abad VI sampai abad VII Tarumanegara menjadi penguasa tunggal di daerah Jawa Barat hingga dihancurkan Sriwijaya pada tahun 686. Tanda batas kerajaan kerajaan Tarumanegara berupa sungai yang diberi prasasti Sang Hyang Tapak.

Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Indonesia. Faktor-faktor penunjang kebesaran Sriwijaya adalah:

  • Letak geografis Sriwijaya di tengah jalur perdagangan India-Cina dengan pelabuhan yang terlindung Pulau Bangka.
  • Runtuhnya Funan sebagai kerajaan maritim.
  • Majunya perdagangan India-Cina.
  • Memiliki armada laut yang kuat untuk mengamankan wilayah perairan dan menjalin hubungan dengan luar kerajaan.
  • Sriwijaya menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, Semenanjung Malaya dan Kra.
  • Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Budha Mahayana terbesar di Asia Tenggara.
  • Pendapatan kerajaan sangat besar, antara lain bersumber dari bea cukai, upeti dan hasil perdagangan.

Sumber Prasasti

  • Prasasti Kedukan Bukit (683). Isi: perjalanan suci Dapunta Hyang diiringi 20.000 tentara. Dapunta Hyang berhasil menaklukkan beberapa daerah. Prasasti ini memperingati ekspedisi Sriwijaya ke seberang lautan, yaitu Semenanjung Malaya.
  • Prasasti Talang Tuo (684). Isi: perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk membuat kebun Sriksetra dan doa-doa agama Budha Mahayana.
  • Prasasti Telaga Batu. Isi: kutukan kepada para penjahat dan pemberontak; berbagai jenis jabatan dan pekerjaan, seperti putra mahkota, putra kedua sampai keempat, bupati, pemimpin pasukan, hakim, pemahat, pengawas sekelompok pekerja, pembuat pisau, juru tulis, nakoda kapal, saudagar, pemimpin, tukang cuci, budak raja dan kepala daerah (datu).
  • Prasasti Kota Kapur (686) dan prasasti Karang Berahi. Isi: kutukan kepada pemberontak dan pengkhianat; usaha menaklukkan bhumi jawa yang tidak tunduk pada Sriwijaya. Kemungkinan yang diserang adalah Tarumanegara.
  • Prasasti Nalanda. Isi: silsilah Balaputradewa, hubungan religi Sriwijaya dengan Benggala.

Aspek Politik

Wilayah Sriwijaya meliputi Sumatra, Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Ibukota kerajaan tidak dapat ditunjuk dengan pasti. Beberapa kemungkinannya antara lain adalah Jambi, Minanga Tamwan, Kedah, Palembang dan Batang Kuantan. Kerajaan ini didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa dengan ibukota Minanga Tamwan. Dari Minanga Tamwan, Sri Jayanasa mengadakan penaklukan-penaklukan yang ia sebut sebagai siddhayatra (perjalanan suci).

Sriwijaya mengalami masa keemasan di bawah pemerintahan Balaputradewa yang bertahta sejak tahun 856. Asal usul Balaputradewa dapat ditelusuri dalam silsilah berikut ini.

Rakai Panangkaran

(?)       +       Samaratungga    +   Tara (puteri Dharmasetu dari Sriwijaya)

Rakai Pikatan + Pramodawardhani        Balaputradewa

Balaputradewa mempunyai hak atas tahta kerajaan Mataram Kuno di  Jawa Tengah sebagai keturunan Samaratungga. Dalam perebutan kekuasaan, ia disingkirkan Rakai Pikatan ke luar Mataram. Dibawah pimpinan Balaputradewa, Sriwijaya memperkuat diri dengan menjalin hubungan persahabatan dengan Benggala dan Cina. Permusuhan Sriwijaya-Mataram Kuno berlangsung hingga abad XI. Tahun 1016 Sriwijaya bersekutu dengan Wurawari di Kedu menyerang Mataram Kuno yang saat itu dikuasai Dharmawangsa Teguh. Serangan ini dicatat dalam sejarah Mataram Kuno sebagai pralaya yang menghancurkan Dharmawangsa Teguh beserta sebagian besar anggota keluarganya.

Sepeninggal Balaputradewa, Sriwijaya mengalami kemunduran. Kemunduran Sriwijaya disebabkan karena:

  • Pemerintahan menjadi lemah. Para raja memerintah secara tidak bijaksana.
  • Gerakan separatis di Semenanjung Malaya.
  • Serangan-serangan dari luar kerajaan, yaitu:
  • serangan Dharmawangsa Teguh terhadap daerah selatan (992)
  • serangan Colamandala terhadap Semenanjung Malaya (1017) dan ibukota (1023, 1030)
  • ekspedisi Pamalayu Kertanegara
  • serangan Majapahit (1477).

Aspek Ekonomi

Sriwijaya menjadi salah satu pusat perdagangan antara Asia Tenggara dengan Cina yang terpenting. Komoditas ekspor saat itu adalah kulit penyu, gading gajah, emas, perak, kemenyan, kapur barus, pinang, kayu cendana dan minyak wangi. Dari luar kerajaan, Sriwijaya mengimpor kain, permadani dan porselen. Sriwijaya memberikan upeti ke Cina dengan harapan agar Cina tidak mengadakan hubungan perdagangan dengan daerah-daerah di luar Sriwijaya.  Jaminan keamanan jalur perdagangan diberikan dengan cara menarik pimpinan kelompok-kelompok bajak laut menjadi pengawal perairan Sriwijaya dan mendapat upah yang diambil dari hasil perdagangan. Persaingan Sriwijaya dengan Cola dalam menguasai jalur perdagangan menyebabkan hubungan kedua kerajaan retak dan berkembang menjadi permusuhan. Pada masa kemunduran Sriwijaya, Cina mengadakan hubungan jual beli langsung ke tempat produsen tanpa menggunakan jasa Sriwijaya. Kenyataan ini sangat mengurangi peran Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara.

Aspek Sosial-budaya

Agama Budha sangat dominan di Sriwijaya. Kerajaan ini menjadi pusat pendidikan agama Budha setelah India. Raja-raja Sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung dan penganut agama Budha yang taat. Dari prasasti Nalanda diketahui bahwa di Benggala terdapat biara yang didirikan khusus untuk biksu Sriwijaya yang belajar agama Budha di Nalanda. Biksu-biksu Cina selalu memperdalam ilmunya di Sriwijaya terlebih dahulu sebelum mereka belajar di India seperti I Tsing. Sebagai salah satu pusat pendidikan agama Budha, Sriwijaya mempunyai banyak guru besar. Salah seorang diantaranya adalah Dharmakitri. Banyak kitab agama Budha disusun oleh biksu-biksu setempat. Persamaan agama juga menjadi salah satu dasar hubungan persahabatan dengan Benggala. Karena berkonsentrasi pada bidang kemaritiman, Sriwijaya tidak meninggalkan banyak bangunan atau artefak.

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Berpusat di Jawa Tengah

Asal Usul Wangsa Sailendra

Asal usul wangsa Sailendra dapat diketahui dari pasasti Sojomerto yang menyebut nama Dapunta Selendra beserta nama ayah dan ibunya, yaitu Santanu dan Bhadrawati. Ditinjau dari namanya, Dapunta Selendra adalah orang Nusantara asli; kemungkinan besar berasal dari Sumatra, karena prasasti ini berbahasa Melayu Kuna.

Hubungan Wangsa Sailendra dengan Wangsa Sanjaya

Sumber

  1. Prasasti Canggal (732). Isi:
  • menyebut seorang raja bernama Sanna yang beragama Hindu
  • kerajaan Sanna mendapat serangan dari luar. Dalam pertempuran, Sanna gugur dan kerajaanya hancur.
  • Kerajaan Sanna dibangun kembali oleh Sanjaya. Sanjaya adalah adik Sannaha, anak Sanna.
  • Sanjaya mendirikan kerajaan baru untuk melanjutkan kerajaan Sanna yang telah hancur.
  1. Prasasti Kalasan (778) dan prasasti Kelurak (782). Isi: menyebut gelar permata wangsa sailendra. Gelar ini menunjuk pada Rakai Panangkaran, anak Sanjaya.
  2. Prasasti Nalanda (pertengahan abad IX). Isi: permata wangsa Sailendra adalah kakek Balaputradewa.
  3. Prasasti Sankhara. Isi: ayah raja Sankhara jatuh sakit dan akhirnya meninggal tanpa dapat disembuhkan pendeta gurunya. Sankhara kemudian meninggalkan kebaktian kepada Siwa dan memeluk agama Budha Mahayana. (Nama Sankhara diduga kuat menunjuk pada Rakai Panangkaran.
  4. Carita Parahyangan. Isi: Rahyang Sanjaya menganjurkan putranya, Rahyangta Panaraban untuk meninggalkan agama yang dianutnya. Menurut prasasti Mantyasih (907) dan prasasti Wanua Tengah III (908), anak Sanjaya adalah Rakai Panangkaran.

Sanna, Sannaha dan Sanjaya berada dalam satu garis keturunan.yang berpangkal pada Dapunta Selendra. Pada masa pemerintahan Sanna, kerajaan Mataram mengalami kehancuran. Kerajaan Mataram kemudian dibangkitkan lagi oleh Sanjaya yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sanna. Dalam perkembangan berikutnya, anggota-anggota Sailendrawangsa menganut dua agama yang berbeda, yaitu agama Hindu dan agama Budha. Anggota Sailendrawangsa yang menganut agama Hindu antara lain adalah Sanna dan Sanjaya, sedangkan anggota Sailendrawangsa yang menganut agama Budha antara lain adalah Rakai Panangkaran. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa di Kerajaan Mataram hanya ada satu dinasti atau wangsa, yaitu dinasti Sailendra atau Sailendrawangsa. Pendapat ini menggugurkan pendapat lama yang hingga sekarang masih banyak dianut.

Pendapat lama menyatakan bahwa di Kerajaan Mataram terdapat dua wangsa, yaitu wangsa Sanjaya dan wangsa Sailendra. Karena terdesak wangsa Sanjaya, kemudian wangsa Sailendra yang berlatar agama Budha menguasai Jawa Tengah bagian selatan. Sanjaya beserta keluarganya menguasai Jawa Tengah bagian utara.

Kerajaan Ho Ling

Munculnya wangsa Sailendra bersamaan dengan munculnya sebutan Ho Ling untuk menunjuk Jawa. Sebutan ini muncul sejak tahun 640 sampai tahun 818. Sumber-sumber sejarah Ho Ling semuanya berupa berita Cina.

Tembok kota dibuat dari tonggak kayu. Bangunan istana bertingkat dan beratap daun palem. Tahta raja dibuat dari gading. Ho Ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak dan gading gajah. Penduduk membuat minuman keras dari bunga kelapa atau bunga aren. Raja Ho Ling mempunyai hubungan persahabatan dengan Cina yang ditandai dengan datangnya utusan raja Ho Ling ke Cina untuk memberikan upeti. Di bawah pemerintahan ratu Hsi Mo yang dinobatkan tahun 674, Ho Ling mencapai kemakmuran. Pemerintahannya amat baik, keras dan adil. Penegakan hukum dijalankan kepada siapa saja. Kemungkinan besar, Ho Ling dikuasai wangsa Sailendra dan ratu Hsi Mo adalah keturunan Dapunta Selendra.

Pada masa pemerintahan Hsi Mo (Sima), ada seorang biksu terkenal bernama Yoh Na Po To Lo (Jnanabhadra). Ia membantu seorang biksu Cina bernama Hwi Ning untuk menterjemahkan kitab suci agama Budha berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Cina. Dari keterangan I Tsing, hampir semua penduduk menganut agama Budha Mahayana, sementara Hsi Mo sendiri beragama Hindu. Ancaman dari luar kerajaan muncul dari Ta Shih. Diduga Ta Shih adalah kelompok orang-orang Arab di Nusantara. Nama Mataram dan Medang sebagai kerajaan digunakan untuk menyebut kerajaan wangsa Sailendra dari Sanjaya hingga Airlangga.

Aspek Politik

Menurut prasasti Canggal, Mataram didirikan Sanjaya pada tahun 732. Ibukota kerajaan pada awalnya berada di Medang, namun dalam perkembangan berikutnya berpindah-pindah dengan kecenderungan mengarah ke timur hingga ibukota kerajaan berada di Jawa Timur.

Perpindahan kekuasaan dari satu raja kepada raja berikutnya tidak selelu berjalan mulus. Beberapa orang menduduki tahta dengan menggulingkan kekuasaan raja sebelumnya. Menurut prasasti Wanua Tengah III, raja-raja Mataram adalah:

  1. Rahyangta ri Mdang (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) (717-746)
  2. Rake Panangkaran (746-784)
  3. Rake Panaraban (784-893)
  4. Rake Warak Dyah Manara (803-827)
  5. Dyah Gula (827-828)
  6. Rake Garung (828-847)
  7. Rake Pikatan Dyah Saladu (847-855)
  8. Rake Kayuwangi Dyah Lokapala (855-885)
  9. Dyah Tagwas (Pebruari-September 885)
  10. Rake Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
  11. Rake Gurunwangi Dyah Bhadra (Januari-Pebruari 887)
  12. Rake Wungkalhumalang Dyah Jbang (894-898)
  13. Rake Watukura Dyah Balitung (898-908)

Raja yang memerintah beberapa bulan saja mungkin dikudeta raja sesudahnya, seperti Dyah Tagwas. Ia memerintah Mataram hanya selama 6 bulan. Pendeknya masa pemerintahan Dyah Tagwas mungkin akibat dikudeta oleh raja sesudahnya, yaitu Rake Panumwangan.

Dari berbagai sumber prasasti, dapat diketahui raja-raja yang memerintah sesudah Balitung, yaitu:

  1. Sang Kalungwarak Pu Daksa (918-915)
  2. Rakai Layang Dyah Tlodhong Sri Sajjana Sanmatanuraga Tunggadewa (919-928)
  3. Rakai Sumba Dyah Wawa (928)

Pemerintahan Wawa berakhir dengan tiba-tiba, kemungkinan besar karena letusan Gunung Merapi yang terhebat dalam sejarahnya. Letusan Gunung Merapi mengakibatkan sebagian besar puncaknya lenyap dan terjadi pergeseran tanah yang antara lain hingga membentuk Gunung Gendol. Kerabat kerajaan beserta rakyat mengungsi ke arah timur sampai di Kanuruhan. Di daerah Kanuruhan atau tepatnya di Tamwlang, Pu Sindok mendirikan ibukota yang baru.

Kerajaan Mataram Berpusat di Jawa Timur: Wangsa Isana

Keika Pu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur, daerah tersebut telah menjadi vazal Mataram. Toponim Kanuruhan diduga kuat adalah bekas Kerajaan Kanjuruhan yang disebut-sebut dalam prasasti Dinoyo. Prasasti yang berangka tahun 760 M ini menandai kemunculan Jawa Timur untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Kerajaan Kanjuruhan

Satu-satunya sumber sejarah Kanjuruhan adalah prasasti Dinoyo. Isi prasasti Dinoyo adalah:

  • Perayaan selesainya pembuatan arca Agastya dari batu hitam dengan bangunan candinya, sebagai pengganti arca Agastya dari kayu cendana yang telah dibuat oleh generasi sebelumnya, oleh raja bernama Gajayana.
  • Silsilah Gajayana, yaitu:

Dewasingha + O

Limwa/Gajayana + O

Utteyana (O) + Jananiya

Kerajaan Kanjuruhan runtuh pada tahun 905 akibat serangan Rakai Watukura Dyah Balitung. Kanjuruhan kemudian menjadi daerah vazal yang dipimpin Rakryan Kanuruhan. Keterangan tentang penaklukan Balitung diperoleh dari prasasti Kubu-kubu tahun 905.

Penamaan Kanjuruhan hingga saat ini masih terus dipakai oleh sebuah lingkungan dalam Kelurahan Dinoyo di tepi Sungai Metro dengan nama Lingkungan Kejuron dan bangunan candi yang disebut-sebut dalam prasasti Dinoyo adalah candi Badut yang terletak di Desa Badut Kotamadya Malang. Di sekitar Dinoyo terdapat nama sebuah tempat yang dekat sekali dengan sebutan Tamwlang, yaitu Desa Tembalangan. Kenyataan ini menguatkan dugaan bahwa Pu Sindok memindahkan ibukota Mataram ke Jawa Timur, atau tepatnya di daerah Malang.

Asal Usul Wangsa Isana

Sumber yang digunakan untuk menelusuri asal usul wangsa Isana adalah prasasti Pucangan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1041. Salah satu bagian isi prasasi tersebut adalah silsilah Airlangga sebagai berikut

Pu Sindok + Rakryan Sri Parameswari Sri Warddhani Pu Kbi (?)

Sri Isanatunggawijaya (O) + Sri  Lokapala

Sri Makutawangsawarddhana + O

Dharmawangsa  Teguh + O        Mahendradatta Gunapriyadharmapatni + Udayana

O          +    Airlangga                       Marakata         Anak Wungsu

Wangsa Isana didirikan Pu Sindok setelah ia memindahkan ibukota kerajaan ke Tamwlang. Menurut prasasti Paradah (943) dan prasasti Anjukladang (937), nama kerajaan tetap Mataram, namun ibukota telah berpindah dari Tamwlang ke Watugaluh. Kemungkinan tempat ini terletak di Desa Watugaluh sekarang, di dekat Jombang di tepi Sungai Brantas.

Nama Tamwlang sendiri disebut-sebut dalam prasasti Turyyan (929). Pemerintahan Pu Sindok kemudian dilanjutkan berturut-turut oleh Sri Isana Tunggawijaya dan Sri Makutawangsawarddhana. Sejak masa Sri Isana Tunggawijaya tidak ada sumber yang dapat memberi keterangan. Sejarah Kerajaan Mataram kemudian mengalami masa gelap sejak akhir masa pemerintahan Pu Sindok hingga masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh tahun 996.

Dharmawangsa Teguh

Nama Dharmawangsa Teguh muncul dalam kitab Wirataparwwa berbahasa Jawa Kuna yang berangka tahun 996. Dalam kitab tersebut terdapat nama Sri Dharmmawangsa Teguh Anantawikrama. Selain dalam kitab Wirataparwwa, nama Dharmmawangsa Teguh muncul pula dalam prasasti Sirahketing (1204) yang dikeluarkan raja Sri Jayawarsa Digwijaya Sastrapabhu. Prasasti ini memuat keterangan bahwa Sri Jayawarsa adalah cucu anak Sang Apanji Wijayamertawarddhana, yang setelah menjadi raja bergelar Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Temuan prasasti ini menimbulkan dugaan kuat bahwa bahwa Dharmawangsa Teguh adalah anak Makutawangsawarddhana, saudara Mahendradatta Gunapriyadharmapatni. Mehendradatta sendiri menikah dengan Udayana, seorang raja Bali.

Pada masa Dharmawangsa Teguh, Mataram berusaha menghancurkan Sriwijaya. Perang Mataram-Sriwijaya diketahui antara lain dari utusan Jawa ke Cina tahun 990 yang menceritakan bahwa negaranya (She Po) sedang bermusuhan dengan San Fu Chi (Sriwijaya). Keterangan ini  diperkuat keterangan bahwa utusan Sriwijaya tertahan di Kanton karena mendengar kerajaannya diserbu tentara Jawa. Utusan Sriwijaya tersebut telah meninggalkan ibukota kekaisaran Cina pada tahun 990.

Pemerintahan Dharmawangsa Teguh hancur pada tahun 1017 akibat serangan Haji Wurawari dari Lwaram (daerah Banyumas sekarang). Ketika serangan terjadi, ibukota Mataram berada di sebelah utara Maospati (daerah Madiun) sekarang. Dalam prasasti Pucangan, serangan Wurawari ini disebut sebagai pralaya yang menghancurkan ibukota. Akibat pralaya, Dharmawangsa Teguh gugur dan dicandikan di Wwatan tahun 1017. Diduga serangan Wurawari disebabkan karena kegagalannya menikahi putri mahkota. Putri mahkota kemudian menikah dengan Airlangga, anak Mahendradatta atau keponakan Dharmawangsa Teguh sendiri. Dugaan tentang sebab-sebab serangan Wurawari diperkuat oleh beberapa kenyataan. Pertama, pralaya terjadi tidak lama setelah pernikahan putri Dharmmawangsa Teguh dengan Airlangga. Kedua, setelah membumihangus ibukota, Wurawari kembali ke Lwaram dan tidak menduduki ibukota. Tindakan Wurawari ini mencerminkan motif serangannya, yaitu pelampiasan kekecewaan dan sakit hati karena gagal menikahi putri mahkota. Kemungkinan serangan Haji Wurawari didukung raja Sriwijaya sebagai tindakan balas dendam terhadap Dharmawangsa Teguh yang menyerang Sriwijaya sekitar tahun 990.

Airlangga

Airlangga dapat meloloskan diri dari serangan Haji Wurawari dan masuk hutan dengan hanya diiringi Narottama. Ia kemudian berkumpul dengan para pendeta sebagai petapa. Tahun 1019 ia direstui sebagai raja dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Usaha menyatukan kerajaan yang tercerai berai dimulai Airlangga pada tahun 1029 dan berakhir tahun 1037. Dari prasasti Kamalagyan diketahui bahwa delapan hari setelah mengalahkan musuhnya yang terakhir, Airlangga membangun bendungan di Waringin Sapta untuk kepentingan pertanian dan transportasi. Aliran Sungai Brantas dipecah menjadi tiga ke arah utara sehingga mudah dikendalikan. Oleh rakyat, bendungan Waringin Sapta disebut sebagai bendungan Sri Maharaja.

Pada masa Airlangga, muncul seorang pujangga besar bernama Pu Kanwa. Ia menggubah kitab Arjunawiwaha sebagai simbol dari riwayat Airlangga sendiri. Di samping kitab Ramayana, kitab Arjunawiwaha merupakan karya sastra dengan bahasa yang terindah dari masa Hindu-Budha yang sampai pada saat ini.

Aspek Ekonomi

Kehidupan ekonomi Mataram bercorak agraris.. Pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk Mataram. Untuk memajukan pertanian dibangun tanggul, saluran air dan bendungan.

Pada awalnya, Mataram sulit mengembangkan perdagangan secara pesat, karena letaknya di pedalaman. Sungai-sungai kurang dapat berfungsi secara penuh sebagai alat transportasi karena arusnya yang deras. Optimalisasi sungai sebagai prasarana transportasi baru dilaksanakan pada masa Airlangga. Adanya bendungan Waringin Sapta memungkinkan pemanfaatan Sungai Brantas sebagai prasarana transportasi yang dapat dilayari dari hulu hingga hilir yang berada di Hujung Galuh. Hujung Galuh sendiri muncul sebagai sdalah satu pusat perdagangan Mataram selain Tuban, Sedayu dan Semarang. Dalam prasasti Wonogiri (903) didapat keterangan bahwa desa-desa di daerah aliran Bengawan Solo dibebaskan dari pajak dengan syarat penduduknya harus menjamin kelancaran pelayaran di Bengawan Solo.

Pendapatan kerajaan terutama bersumber dari pajak. Beberapa jenis pajak diantaranya adalah pajak hasil bumi, pajak tanah, pajak perdagangan dan pajak hasil pertanian. Para pedagang asing yang menetap juga dikenai pajak. Selain pajak, kerajaan juga menarik berbagai macam pungutan.

Di tingkat desa, barang-barang yang diperdagangkan antara lain adalah hasil bumi, alat rumahtangga, barang kerajinan dan binatang ternak. Pada masa Airlangga, perdagangan antarpulau dan internasional berkembang pesat. Hujung Galuh menjadi pelabuhan besar dan tujuan para pedagang besar dari tempat lain. Komoditi ekspor saat itu adalah berbagai jenis sutra dan kayu, rempah-rempah, kulit penyu, belerang, mutiara, gading dan pedang buatan Timur Tengah. Komoditi impor terdiri dari kain dan payung sutra, pedang buatan Timur Tengah, keramik, belanga besi berkaki tiga dan berbagai jenis logam. Sebagai alat tukar, digunakan mata uang berupa potongan-potongan emas dan perak.

Aspek Sosial

Antara kraton dengan desa terjalin hubungan erat, sehingga kehidupan rakyat jelata tidak terasing dari kalangan kraton. Keamanan desa menjadi perhatian serius, karena saat itu telah ada penjahat dan perampok yang menghadang pedagang keliling. Sebagian terbesar pelanggaran hukum dikenai sanksi berupa denda. Selain denda, dikenal hukuman potong anggota badan yang bersalah. Pembunuhan dan pencurian dikenai hukuman mati. Beberapa kitab hukum yang dipakai saat itu adalah Dharmasastra, Sasaramuccaya dan Canalaya.

Di ibukota yang dikelilingi dinding, terdapat istana raja yang juga dikelilingi tembok pembatas. Di luar tembok istana, berdiam para pejabat tinggi di perkampungan khusus. Orang-orang yang mempunyai keahlian pengolahan logam diawasi pemerintah dengan menempatkan mereka dalam perkampungan di sekitar istana. Mereka adalah para pandai emas, pandai perunggu, pandai tembaga dan pandai besi.

Penduduk desa bekerja sebagai petani, pedagang keliling dan pengrajin. Sebagian bekerja di kota sebagai buruh. Perkampungan diperluas sesuai pola macapat. Pola ini mungkin berhubungan dengan lima hari pasaran dalam kalender Jawa yaitu Kaliwuan, Umanis, Pahing, Pon dan Wage.

Aspek Budaya

Ibukota kerajaan menjadi pusat kebudayaan yang dianut pusat-pusat kebudayaan daerah. Para profesional dan seniman terbaik, terutama penari, tinggal di ibukota. Istana raja merupakan bangunan terbesar dan terindah dalam kerajaan. Pada waktu-waktu tertentu, raja naik panggung dan ikut menari.

Pengaruh budaya Hindu-Budha tersebar hingga ke pelosok. Beberapa orang penduduk desa mendapat pendidikan membaca kitab suci dan menulis, terbukti dari beberapa buah nama berbahasa Sansekerta yang mereka pakai. Dalam agama Hindu, bahasa Sansekerta adalah bahasa yang digunakan dalam Weda dan hanya boleh dikuasasi oleh kasta brahmana saja.

Ketika ibukota berada di Jawa  Tengah, satu-satunya karya sastra yaitu kitab Ramayana. Setelah ibukota berada di Jawa Timur, lebih  banyak karya sastra yang sampai pada saat ini. Beberapa karya sastra tersebut antara lain adalah Sang Hyang Kamahayanikan dan Arjunawiwaha.

Pembagian Kerajaan oleh Airlangga: Akhir Kerajaan Mataram Kuna

Sumber

  • Prasasti Wurara (1289). Isi: pendeta utama bernama Aryya Bharad telah membagi tanah Jawa menjadi dua karena ada dua orang raja yang siap untuk berperang. Maka terjadilah Kerajaan Janggala dan Panjalu.
  • Kitab Nagarakertagama. Isi: Airlangga telah memerintahkan pembagian tanah Jawa karena cinta kasihnya kepada dua orang anaknya yang sama-sama menjadi raja. Pembagian dilakukan oleh Pu Bharada, penganut agama Siwa dari aliran Tantra yang tinggal di Lemah Citra.
  • Kitab Calon Arang. Isi: Airlangga merasa bingung karena harus mewariskan kerajaannya kepada dua orang putranya. Ia mengutus Pu Bharada menemui Pu Kuturan, penasehat raja di Bali, untuk minta kerajaan di Bali bagi anaknya yang kedua. Pu Kuturan menolak, karena kerajaan di Bali telah mempersiapkan putra mahkota. Airlangga kemudian membagi tanah Jawa dengan bantuan Pu Bharada.

Setelah dinobatkan menjadi raja, Airlangga mengambil permaisuri dari kerabat raja yang masih selamat. Dari permaisuri, muncul Sri Sanggramawijaya Dharmmaprasadottunggadewi sebagai putri mahkota. Kesulitan timbul setelah anak laki-laki Dharmmawangsa Teguh, yaitu Samarawijaya, muncul dan menuntut haknya atas tahta Kerajaan Mataram. Kedudukan putra mahkota kemudian dialihkan kepada Samarawijaya dan Airlangga mengundurkan diri dari pemerintahan. Ia menjadi petapa dengan gelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinakacatraning Bhuwana. Sri Sanggramawijaya sendiri setelah melepas kedudukan putri mahkota kemudian menjadi petapa dengan Rara Sucian atau Dyah Kilisuci

Keadaan ini tidak dapat diterima adik Sri Sanggramawijaya, dan ia hendak merebut kekuasaan. Airlangga segera kembali menduduki tahta dan membagi Mataram menjadi dua kerajaan. Keturunan Airlangga mendapat kerajaan yang diberi nama Janggala dengan ibukota di Kahuripan. Keturunan Dharmawangsa Teguh mendapat ibukota yang lama, yaitu Dahanapura, dan nama kerajaan diubah menjadi Panjalu. Setelah membagi Mataram, Airlangga kembali menjadi petapa.

Kerajaan Janggala

Pemerintahan Janggala diwarnai perang saudara dengan Panjalu. Beberapa orang rajanya antara lain adalah:

  1. Mapanji Garasakan.
  2. Sri Maharaja Sri Samarotsaha Karnnakesana Rantasangkha.
  3. Mapanji Alanjung Ahyes Makutopadhanu Sri Ajnajabharitamawakana Pasukala Nawamaninddhita Sasatrahetajnadewati.

Janggala memakai lambang kerajaan berupa garudamukha, lambang kerajaan Airlangga. Dari prasasti Banjaran didapatkan keterangan tentang perebutan kekuasaan; kemungkinan besar antara Alanjung Ahyes dengan Mapanji Garasakan atau penggantinya. Wilayah Janggala meliputi wilayah Mataram bagian selatan dengan batas Kali Lamong. Sebagian besar prasasti kerajaan Janggala memberikan keterangan tentang permusuhan Kerajaan Janggala dengan Kerajaan Kadiri.

Kerajaan Panjalu/Kadiri

Setelah melalui masa gelap selama ± 60 tahun, yang muncul dalam sejarah adalah kerajaan Kadiri. Prasasti yang pertama adalah prasasti Pandlegan tahun 1117 yang dikeluarkan Sri Bameswara. Saat itu ibukota telah berada di daerah Kediri sekarang.

Raja-raja yang memerintah di Kadiri adalah:

  1. Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya.
  2. Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudanawataranindita Suhrtsingha Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalanchana.
  3. Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarwweswara Janarddhanawatara Wijayagrasama Singhadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewanama.
  4. Sri Maharaja Rakai Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijaya Mukha….Sakalabhuwana[tustikarana]niwaryya Parakramottunggadewanama.
  5. Sri Maharaja Sri Koncaryyadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayottunggadewanama Sri Gandra.
  6. Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewanama.
  7. Sri Maharaja Sri Sarwweswara Triwikramawataranindita Srenggalanchana Digjayottunggadewanama (Krtajaya).

Aspek Ekonomi

Pertanian, peternakan dan perdagangan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Komoditas perdagangan saat itu antara lain adalah beras, kain, emas, perak, gading, kayu cendana dan pinang. Rakyat telah membudidayakan ulat sutera dan kapas. Alat pembayaran berupa mata uang perak. Pada zaman keemasannya, Kerajaan Kadiri menguasai bagian timur kepulauan Nusantara.

Aspek Sosial-budaya

Pemerintah memberi perlindungan terhadap sastrawan, sehingga mereka dapat mengembangkan kreativitas dengan bebas. Beberapa karya sastra yang muncul pada masa ini antara lain adalah Lubdhaka, Wrtasancaya, Krsnayana, Sumanasantaka, Bharatayuddha, Hariwangsa, Gatotkacasraya. Jayabhaya sendiri juga membuat sebuah karya sastra berisi ramalan-ramalannya yang kemudian dikenal dengan nama Jangka Jabaya. Kerajaan Panjalu tidak membuat bangunan candi yang besar sebagaimana kerajaan-kerajaan sebelumnya.

Menurut kitab Ling Wai Tai Ta, orang-orang Panjalu memakai kain sampai di bawah lutut, sedangkan rambutnya diurai. Rumah-rumah sangat rapi dan bersih dengan ubin berwarna cerah. Orang-orang yang sakit berdoa untuk kesembuhannya tanpa meminum obat. Tiap bulan kelima diadakan pesta air dan tiap bulan kesepuluh diadakan pesta di gunung. Alat-alat musiknya terutama berupa gendang, seruling dan gambang dari kayu.

Raja berpakaian sutera, bersepatu kulit dan memakai perhiasan dari emas, sedangkan rambutnya disanggul. Jika raja keluar, naik gajah ataupun naik kuda, dikawal 500-700 prajurit dan rakyat di tepi jalan berjongkok sampai raja lewat. Di antara jabatan-jabatan tinggi, terdapat jabatan senapati sarwwajala, yaitu panglima angkatan laut. Untuk pertama kalinya didapatkan nama-nama orang yang memakai nama binatang, seperti Lembu Agra, Gajah Kuning dan Macan Putih.

Keruntuhan Panjalu antara lain diceritakan dalam Pararaton. Suatu ketika Krtajaya menuntut para brahmana dan biksu untuk menyembahnya. Mereka menolak, karena dalam sejarah tidak pernah ada pendeta menyembah raja. Mereka lalu melarikan diri ke Tumapel dan berlindung pada Ken Arok. Tidak lama kemudian para pendeta tersebut menobatkan Ken Arok sebagai raja Singasari yang beribukota di Tumapel dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwwabhumi. Setelah dinobatkan, Ken Arok menyerang Panjalu tahun 1222. Dalam pertempuran di Ganter, Panjalu kalah dan menjadi kerajaan bawahan Singasari. Kehancuran Panjalu menandai berakhirnya kekuasaan wangsa Isana di Jawa Timur selama tiga abad.

Wangsa Warmmadewa di Bali

Nama wangsa Warmmadewa mulai muncul di Bali sejak tahun 913, sejaman dengan wangsa Isana di Jawa Timur. Raja-raja dari wangsa Isana di Jawa Timur. Raja-raja dari wangsa Warmmadewa yang memerintah di Bali adalah:

  1. Sri Kesari Warmmadewa.
  2. Sang Ratu Sri Ugrasena (915-942).
  3. Sang Ratu Sri Aji Tabenendra Warmmadewa (955-968), didampingi Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmmadewi (Dharmadewi).
  4. Indra Jayasingha Warmmadewa (882).
  5. Sri Janasadhu Warmmadewa (975).
  6. Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi .
  7. Sang Ratu Maruhani Sri Udayana Warmmadewa, didampingi Sang Ratu Luhur Sri Gunapriyadharmapatni.
  8. Dharmawangsawardhana Marakatapangkaja Sthanottunggadewa (1012-1015).
  9. Paduka Haji Anak Wungsu.
  10. Sri Maharaja Sri Walaprabhu.
  11. Paduka Sri Maharaja Bhatara Guru Dhramottunggadewa Warmmadewa.

Hubungan wangsa Warmmadewa dengan wangsa Isana dimulai pada masa Udayana. Karena tahta diduduki Sri Janasadhu atau Sri Wijaya, Udayana pindah ke Jawa Timur. Di Jawa Timur, Udayana menikah dengan Mahendradatta, saudari Dharmawangsa Teguh dari Kerajaan Mataram. Setelah Sri Wijaya tidak berkuasa lagi, Udayana dan Mahendradatta kembbali ke Bali dan memerintah bersama-sama sejak tahun 989. Dari perkawinan mereka antara lain muncul Airlangga. Ia kemudian pergi ke Jawa Timur untuk menikah dengan putri mahkota Dharmawangsa Teguh. Kerajaan di Bali banyak disebut-sebut dalam Nagarakertagama dan Calon Arang sehubungan dengan perebutan kekuasaan Kerajaan Mataram antara keturunan Dharmawangsa dengan keturunan Airlangga. Dinasti Warmmadewa mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Marakata dan pemerintahan Anak Wungsu.

Kerajaan Singasari

            Sejarah berdirinya Singasari berkait erat dengan runtuhnya Kerajaan Panjalu. Selain dari berbagai prasasti, sumber sejarah Kerajaan Singasari didapatkan dari kitab Pararaton dan Nagarakertagama.

Wangsa Rajasa/Girindra

Kerajaan Singasari dikuasai wangsa Rajasa yang didirikan Ken Arok. Riwayat Ken Arok sendiri diceritakan secara rinci dalam kitab Pararaton. Ken Arok adalah hasil perselingkuhan Brahma dengan Ken Endok, istri Gajah Para, yang tinggal di lereng timur Gunung Kawi. Setelah lahir, Ken Arok dibuang di kuburan dan ditemukan oleh penjahat bernama Lembong atau Bango Samparan. Ken Arok tumbuh menjadi seorang penjahat sangat sakti hingga menjadi buronan akuwu Tumapel.

Pada suatu saat, Ken Arok diakui sebagai anak angkat oleh Dahyang Lohgawe. Dengan bantuan Dahyang Lohgawe, Ken Arok kemudian mengabdi kepada Tunggul Ametung, akuwu Tumapel. Karena tertarik pada istri Ken Arok bernama Ken Dedes, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dengan keris buatan Mpu Gandring. Ia kemudian menggantikan kedudukan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung Anusapati. Kekacauan di Panjalu dan datangnya para pendeta yang minta perlindungan dimanfaatkan Ken Arok untuk mengkudeta Kertajaya yang sedang berkuasa di Panjalu.

Ken Arok menjadi raja Singasari dengan dua istri, yaitu Ken Dedes dan Ken Umang. Dari mereka, muncul raja-raja Singasari sebagaimana dalam silsilah berikut.

Tunggul Ametung + Ken Dedes             +            Ken Arok + Ken Umang

Anusapati            Mahisa Wongateleng          Tohjaya

Ranggawuni            Mahisa Campaka

Jayakatwang + O        Kertanegara                  Lembu Tal

Arddharaja + O                 Gayatri     +    Wijaya

  1. Ken Arok (1222-1227)

Keberhasilan Ken Arok merebut Panjalu membuat wilayah Mataram yang dulu dibagi Airlangga kembali bersatu di bawah panji Singasari. Panjalu menjadi kerajaan bawahan Singasari yang dipimpin keturunan Krtajaya. Ken Arok dibunuh orang suruhan Anusapati ketika sedang makan pada saat senja. Ia dicandikan di Kagenengan dan di Usana.

  1. Anusapati (1227-1248)

Anusapati menelantarkan negara karena kegemaranya menyabung ayam. Sementara itu, kematian Ken Arok membakar dendam Tohjaya. Dalam sebuah pertunjukan sabung ayam, Anusapati dibunuh Tohjaya dengan keris Mpu Gandring yang menjadi senjata Anusapati. Ia dicandikan di Kidal.

  1. Tohjaya (1248)

Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya menjadi raja. Beberapa bulan kemudian Ranggawuni dan Mahisa Campaka menuntut tahta kerajaan. Tohjaya mengirim Lembu Ampal dan pasukannya untuk menghancurkan mereka, tapi justru Lembu Ampal yang terpengaruh dan memihak Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Dalam serangan ke istana, Tohjaya dapat meloloskan diri. Ia dikejar sampai di Katanglumbang dan dibunuh kemudian dicandikan di sana.

  1. Ranggawuni dan Mahisa Campaka (1248-1268)

Sepeninggal Tohjaya, Ranggawuni dan Mahisa Campaka memerintah bersama-sama. Ranggawuni bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Smining Rat, sedangkan Mahisa Campaka bergelar Narasinghamurti. Pada masa pemerintahan mereka, muncul pemberontakan Linggapati dari Mahibit. Pemberontakan ini dapat dihancurkan pasukan kerajaan yang dipimpin Mahisa Bungalan. Tahun 1254 Ranggawuni menobatkan Kertanegara sebagai raja muda yang menguasai seluruh wilayah Kadiri. Ranggawuni meninggal tahun 1286. Ia dicandikan di Weleri dan di Jajaghu. Tak lama kemudian Mahisa Campaka meninggal dan dicandikan di Kumitir.

  1. Kertanegara (1268-1292)

Bergelar Sri Maharajadhiraja Kertanegara, ia adalah raja Singasari yang terakhir dan terbesar. Di bawah kepemimpinannya, Singasari mengalami jaman keemasan. Di lapangan politik, Kertanegara menandingi kekuasaan Kubilai Khan di Mongol. Ia mengadakan perluasan Cakrawala Mandala (batas kerajaan) sejauh mungkin dari ibukota untuk menghadang tentara Mongol jika mereka menyerang Singasari dengan mengirim ekspedisi Pamalayu. Untuk mencapai tujuannya, Kertanegara menyingkirkan para pejabat yang mungkin menentangnya seperti Kebo Arema (Raganatha) dan Banyak Wide. Kebo Arema dijadikan adhyaksa di Tumapel dan Banyak Wide, yang kurang dipercaya karena dinilai terlalu dekat dengan Kadiri, dijadikan bupati di Sungenep dengan gelar Aryya Wiraraja. Sikap Kertanegara ini menimbulkan dendam Wiraraja. Karena politik ekspansionis Kertanegara, wilayah Singasari kemudian meluas meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Madura, Malayu (Sumatra Barat), Pahang, Sunda, Tanjungpura dan Maluku. Kertanegara juga menjalin hubungan perkawinan dengan Campa.

Tahun 1289 Kertanegara melukai Meng Chi, utusan kubilai Khan yang menuntut pengakuan tunduk Kertanegara terhadap Kekaisaran Mongol. Kaisar sangat marah dan mengirim tentara untuk menghukum Kertanegara. Tentara Mongol berangkat awal tahun 1292 di bawah pimpinan Shih Pi, Iheh Mi Shih dan Kau Hsing.

Keruntuhan Singasari justru disebabkan pemberontakan Jayakatwang, keturunan Krtajaya yang memerintah di Panjalu. Meskipun Krtajaya dihancurkan, Panjalu tetap dipimpin oleh keturunannya. Kertanegara berusaha mengikat keluarga Jayakatwang dengan perkawinan, tetapi tidak mampu mencegah pembalasan keluarga Jayakatwang.

Jayakatwang menggunakan kesempatan saat tentara yang melakukan ekspedisi Pamalayu belum kembali. Pemberontakan Jayakatwang ini mendapat dukungan Aryya Wiraraja dan dilakukan pada pertengahan tahun 1292. Ketika istana diserang, Kertanegara sedang melakukan upacara Tantrayana bersama para pendeta dan pejabat kerajaan. Kertanegara dimakamkan di Candi Jawi dan di Candi Singosari. Ia diwujudkan sebagai Joko Dolog. Kerajaan Singasari menjadi bawahan Kerajaan Panjalu.

Kerajaan Majapahit

Ketika Jayakatwang menyerang Singasari, Kertanegara menunjuk Wijaya untuk memimpin pasukan Singasari mengusir pasukan Panjalu yang datang dari utara. Singasari terjebak siasat Jayakatwang, karena pasukan induk Panjalu justru menyerang dari arah selatan. Singasari hancur dan Wijaya beserta pasukannya menjadi sasaran pengejaran pasukan Panjalu.

Setelah mengetahui Singasari telah jatuh, Wijaya menemui Wiraraja di Sungenep. Atas usaha Wiraraja, Wijaya kemudian diterima Jayakatwang. Wijaya akhirnya mendapat kepercayaan penuh dari Jayakatwang, sehingga permintaan Wijaya untuk membuka hutan Terik menjadi desa dikabulkan Jayakatwang. Daerah hutan Terik kemudian berkembang menjadi desa yang diberi nama Majapahit. Diam-diam Wijaya dibantu Wiraraja memperkuat diri sambil menunggu kesempatan untuk menghancurkan Panjalu.

Kesempatan tersebut datang ketika tentara Mongol tiba. Wijaya berhasil memperalat tentara Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang. Setelah Panjalu jatuh, tentara Mongol diserang tentara Wijaya dibantu Wiraraja dan akhirnya terusir dari Jawa. Kisah pelarian hingga keberhasilan Wijaya mengusir tentara Mongol antara lain terungkap dalam Nagarakertagama, Pararaton, kidung Harsawijaya dan kidung Panji Wijayakrama. Wijaya kemudian menjadi raja pertama di Majapahit.

  1. Kertarajasa Jayawarddhana (1293-1309)

Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawarddhana. Ia didampingi empat putri Kertanegara, yaitu:

  • Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari. Dari Tribhuwaneswari, muncul Jayanegara sebagai putra mahkota.
  • Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita.
  • Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita.
  • Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri. Ia mempunyai dua putri yaitu:
  • Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani, menjadi ratu di Jiwana dengan gelar Bhre Kahuripan.
  • Rajadewi Maharajasa, menjadi ratu di Daha dengan gelar Bhre Daha.

Pada awal pemerintahan Kertarajasa, datanglah ekspedisi Pamalayu Kertanegara. Mereka membawa dua putri raja Malayu, yaitu Dara Petak dan Dara Jingga. Dari Dara Petak, muncul Kalagemet dan dari Dara Jingga muncul Adityawarman.

Sebagai tanda terima kasih dan penghargaan, beberapa pengikut Kertarajasa yang setia dan berjasa mendapat jabatan-jabatan tinggi. Mereka adalah:

  • Wiraraja sebagai mantri mahawiradikara
  • Nambi sebagai rakryan mapatih
  • Lembu Sora sebagai rakryan apatih di Daha
  • Pemimpin ekspedisi Pamalayu sebagai panglima perang dengan gelar Kebo Anabrang
  • Ranggalawe sebagai amanca nagara di Tuban dan adipati di Dhatara.

Sebagian pengikut Kertarajasa tidak puas dengan apa yang mereka dapat sekarang. Sikap ini kemudian berkembang menjadi pemberontakan. Beberapa pemberontakan yang muncul poada masa pemerintahan Kertarejasa adalah:

  • Pemberontakan Ranggalawe (1295)
  • Pemberontakan Lembu Sora (1298-1300)

Menjelang akhir pemerintahan Kertarajasa, Nambi keluar dari Majapahit agar tidak terlibat konflik dalam kraton. Kertarajasa meninggal tahun 1309 dan dicandikan di Antahpura.

  1. Jayanagara (1309-1328)

Jayanagara bergelar Sri Sundarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikramottunggadewa. Masa pemerintahannya diwarnai beberapa pemberontakan akibat fitnah Mahapati. Pemberontakan-pemberontakan tersebut adalah:

  • Pemberontakan Nambi (1311-1316)
  • Pemberontakan Semi (1318)
  • Pemberontakan Kuti (1319)

Setelah pemberontakan Kuti, kebusukan Mahapati terbongkar dan akhirnya ia terbunuh seperti babi hutan. Dalam pemberontakan Kuti, muncul Gajah Mada sebagai bekel bhayangkari yang mengawal dan menutupi penyamaran raja di Badander. Gajah Mada kemudian diangkat sebagai patih Kahuripan, dan akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi patih Daha. Hubungan dengan Cina telah pulih kembali. Utusan dari Jawa datang tiap tahun sejak tahun 1325 sampai tahun 1328.

Jayanagara dibunuh tahun 1328 oleh Tanca, tabib istana. Peristiwa ini dalam Pararaton dikenal dengan Patanca. Ia dicandikan di dalam pura, di Sila Petak dan di Bubat.

  1. Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani (1328-1372)

Karena tidak berputra, Jayanagara diganti Bhre Kahuripan. Ia menikah dengan Cakradhara atau Cakreswara, Bhre Singasari. Bhre Daha menikah  dengan Kudamerta yang menjadi Bhre Wengker bergelar Wijayarajasa.

Pada masa pemerintahan Tibhuwana, meletus pemberontakan di Sadeng dan Keta (1331). Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada yang kemudian diangkat menjadi patih amangkubhumi. Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa di depan raja dan pembesar Majapahit. Ia tidak akan amukti palapa (makan garam dan rempah-rempah) sebelum dapat menaklukkan nusantara, yaitu Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dam Tumasik. Beberapa tindakan Gajah Mada antara lain adalah:

  • menaklukkan Bali bersama Adityawarman dan Nala tahun 1343. Saat itu Bali di bawah pemerintahan raja Astasura.
  • menempatkan Adityawarman sebagai raja di Malayu. Ia kemudian berekspansi hingga ke Minangkabau.

Tahun 1350 Gayatri atau Rajapatni meninggal, sehingga Tribhuwana harus turun tahta. Tribhuwana meninggal tahun 1372.

  1. Hayam Wuruk (1350-1389)

Hayam Wuruk adalah putra mahkota Tribhuwana. Ia bergelar Sri Rajasanagara, dan dikenal pula dengan nama Bhra Hyang Wekasing Sukha. Di bawah Rajasanagara, Majapahit berada pada puncak kejayaan. Wilayahnya meliputi Sumatra hingga Irian. Pengaruh Majapahit meluas hingga kerajaan-kerajaan tetanga di Asia Tenggara. Luasnya wilayah Majapahit diketahui dari Nagarakertagama karangan Prapanca. Politik ekspansi Rajasanagara berakhir tahun 1357 dengan adanya peristiwa Bubat (pasunda-bubat). Peristiwa ini dijelaskan panjang lebar dalam Pararaton dan Kidung Sundayana.

Hayam Wuruk hendak mengambil putri Sunda, Dyah Pitaloka, sebagai permaisuri. Dyah  Pitaloka adalah anak Sri Baduga Maharaja, yang menurut prasasti Batutulis (1333) adalah raja Pakwan Pajajaran, anak Rahyang Dewaniskala dan cucu Rahyang Niskalawastu Kancana. Setelah Pitaloka dan ayahnya beserta  para pengiring tiba di Majapahit, terjadi perselisihan. Gajah Mada menuntut agar Pitaloka diserahkan sebagai tanda pengakuan tunduk kepada Kerajaan Majapahit, yang tentu saja ditolak oleh rombongan Kerajaan Sunda. Akhirnya perkemahan rombongan yang terletak di Bubat diserang tentara Majapahit. Dalam pertempuran, semua orang Sunda mati. Rajasanagara kemudian menikah dengan Paduka Sori, anak Bhre Wengker Wijayarajasa.

Pada tahun 1364 Gajah Mada meninggal. Jabatan patih amangkubhumi kemudian dipegang Gajah Enggon tiga tahun kemudian. Rajasanagara sendiri kemudian meninggal tahun 1389.

  1. Wikramawarddhana (1389-1400)

Ia adalah suami putri mahkota, Kusumawarddhani dan anak Rajasaduhiteswari, adik Rajasanagara yang menikah dengan Singhawarddhana. Wikramawarddhana kemudian mengundurkan diri menjadi seorang pendeta.

  1. Suhita (1400-1447)

Suhita adalah anak kedua dari Wikramawarddhana. Ia naik tahta karena kakanya, Bhre Tumapel Bhre Hyang Wekasing Sukha telah meninggal. Pada masa pemerintahan Suhita, terjadi perang perebutan kekuasaan antara Wikramawarddhana dengan Bhre Wirabhumi, raja daerah Balambangan. Bhre Wirabhumi adalah anak Rajasanagara dari selir, sehingga tidak berhak atas tahta. Perang saudara ini dikenal dengan perang paregreg. Tahun 1400 Bhre Wirabhumi dapat dibunuh, tapi konflik terus berlanjut. Suhita meninggal tahun 1447.

  1. Dyah Kertawijaya (1446-1451)

Ia adalah adik Suhita yang naik tahta karena Suhita tidak mempunyai anak.

  1. Sri Rajasawarddhana/Sang Sinagara (1451-1453)

Menurut Pararaton, saat itu ibukota berada di Keling-Kahuripan. Perpindahan ibukota ini dimungkinkan karena konflik keluarga yang terus berlangsung. Sepeninggal Rajasawarddhana, Majapahit mengalami masa kosong tanpa raja selama tiga tahun karena kerasnya pertentangan keluarga yang berlarut-larut.

  1. Dyah Suryawikrama Girisawarddhana (1456-1466)

Ia adalah anak Kertawijaya yang selama pemerintahan ayahnya menjadi raja daerah di Wengker.

  1. Bhre Pandan Salas (1466-1474)

Dikenal pula dengan nama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Sebelumnya, ia adalah raja daerah Tumapel. Kitab Pararaton mengkisahkan bahwa tahun 1468 ia diserang Bhre Kertabhumi sehingga harus menyingkir ke Daha dan ibukota diduduki Bhre Kertabhumi, anak bungsu Rajasawarddhana.

  1. Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya (1474-1486)

Sebelum menjadi raja Majapahit, ia adalah raja bawahan di Keling. Tahun 1400 ia membunuh Bhre Kertabhumi di Kraton Majapahit sebagai balas dendam atas kekalahan ayahnya, Bhre Pandan Salas.

Kerajaan Majapahit hancur karena serangan Adipati Unus anak Raden Patah dari Demak. Serangan itu dilakukan sebagai tindakan balas dendam terhadap Ranawijaya yang telah membunuh Bhre Kertabhumi, kakek Adipati Unus.

Aspek Sosial

Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia, sehingga semua perintahnya harus diikuti. Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh:

  • bhatara sapta prabhu, bertindak sebagai penasehat raja. Anggota dewan ini adalah saudara atau kerabat dekat raja.
  • paduka bhatara (raja daerah), berkuasa sebagai kepala daerah. Jabatan ini juga dipegang oleh saudara atau kerabat dekat raja.
  • mahamantri, terdiri dari mahamantri i hino, mahamantri i halu dan mahamantri i sirikan. Mahamantri dibantu oleh rakryan mahapatih (patih amangkubhumi), rakryan demung, rakryan tumenggung, rakryan rangga dan rakryan kanuruhan. Lima pejabat ini disebut dengan Sang Panca Ing Wilwatikta atau Manteri Amancanagara.

Majapahit mengembangkan mitreka satata (persahabatan kekal dan sederajat) terhadap kerajaan-kerajaan tetangga di Asia Tenggara. Sesekali waktu raja mengadakan kunjungan ke daerah untuk melihat sendiri keadaan rakyat dan kerajaan.

Aspek Ekonomi

Masyarakat Majapahit mengutamakan perdagangan sebagai mata pencaharian disamping pertanian. Di daerah pedalaman, sungai menjadi jalur perdagangan yang penting. Desa-desa di sekitar sungai berkembang menjadi pusat perdagangan.   Kota-kota pelabuhan saat itu adalah Canggu, Surabaya, Gresik, Tuban dan Pasuruan. Barang-barang yang diperdagangkan secara umum adalah hasil bumi, hasil tambang, hasil hutan dan kerajinan. Majapahit juga bertindak sebagai perantara.

Untuk meningkatkan pertanian, pemerintah membangun bendungan dan saluran-saluran air. Beberapa bagian hutan dibuka untuk pertanian. Tempat-tempat penyeberangan sungai dibuat di sepanjang aliran sungai besar untuk memperlancar transportasi.

Aspek Budaya

Masalah agama diurusi oleh dharmmadhyaksa ring kasogatan untuk agama Budha dan dharmmadhyaksa ring kasaiwan untuk agama Hindu. Toleransi antarumat beragama diceritakan Tantular dalan Sutasoma yang memuat kalimat ….bhinneka tunggal ika, tan hana dharmma mangrwa…..

Pada masa Suhita, muncul kecenderungan mengangkat kembali bentuk-bentuk seni bangun asli Indonesia sebagaimana tampak pada beberapa candi di lereng Gunung Lawu dan Gunung Penanggungan. Seni sastra mengalami perkembangan yang pesat. Hasil sastra Majapahit dapat dikelompokkan dalam sastra Majapahit awal dan sastra Majapahit akhir. Sastra Majapahit awal antara lain adalah Nagarakertagama, Sutasoma dan Arjunawiwaha. Hasil sastra Majapahit akhir misalnya adalah Pararaton, Sorandaka, Ranggalawe, Sundayana dan Panji Wijayakrama. Setelah agama Islam masuk, orang-orang Majapahit yang berbudaya Hindu mundur ke daerah Gunung Bromo dan ke Bali.

Beberapa sebab kemunduran dan kehancuran Kerajaan Majapahit antara lain adalah:

  • Pecahnya Perang Paregreg yang menjadi perang saudara terbesar di Majapahit
  • Tidak ada pimpinan kerajaan yang kuat dan berwibawa seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Pimpinan kerajaan tidak mempersiapkan penerus tahta yang kuat yang akan mewarisi kebesaran Kerajaan Majapahit.
  • Adanya gerakan separatis. Kerajaan-kerajaan jajahan Majapahit kemudian melepaskan diri dan tidak menyerahkan upeti. Pendapatan Kerajaan Majapahit menjadi merosot tajam dan kekuatan politik Kerajaan Majapahit menjadi sangat berkurang.
  • Pendangkalan muara Sungai Brantas sehingga Pelabuhan Canggu dan Sedayu yang menjadi pelabuhan utama Majapahit menjadi tidak berfungsi. Pendangkalan muara sungai ini turut melemahkan kehidupan ekonomi Majapahit.

Daftar Sumber

Badrika, IW. 1994. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum, SMU Jilid 1, Kurikulum 1994.           Jakarta: Erlangga.

Kusen. Raja-raja Mataram Kuna dari Sanjaya Sampai Balitung: Sebuah Rekonstruksi      Berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III. Makalah disampaikan dalam Seminar Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuna di Yogyakarta, 23-24            Maret 1994.

Poesponegoro, MD dkk. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Depdikbud.

Qomaruddin, SW dkk. 1994. Sejarah 1, untuk Kelas 1 SMU. Jakarta: Yudhistira.

Qomaruddin, SW dkk. 2001. Sejarah Nasional dan Umum untuk SMU Kelas 1. Yogyakarta: Bumi Aksara.

Soekidi dkk. 1994. Sejarah 1, untuk SMU Kelas 1. Surakarta: Pabelan.

Soekmono, R. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

Slametmuljana. 1980. Dari Holotan ke Jayakarta. Jakarta: Idayu.

Wojowasito, S. 1952. Sedjarah Kebudajaan Indonesia dan Umum (Indonesia Sedjak Pengaruh India) Djilid II Tjetakan Kedua. Djakarta: Siliwangi.

 

Oleh: Mohammad Taufik Al Fadjar, S.Pd., M.Pd. (Guru IPS SMPN 4 Batu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elearning Snemba © 2018